Maldini di Ambang Mundur, FIGC Bersiap Rekrut Chiellini
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini mengancam hengkang dari kursi direktur teknis FIGC hanya dua pekan setelah dilantik, akibat gagalnya rencana penunjukan pelatih timnas Italia.
- Kekisruhan terjadi setelah Andrea Pirlo batal diangkat karena terafiliasi dengan sponsor judi Rusia Fonbet, memicu masalah hukum dan etika.
- Giorgio Chiellini muncul sebagai kandidat pengganti Maldini, dan jika terpilih diprediksi akan mendorong Antonio Conte menangani Gli Azzurri.

Kekacauan di dalam Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mencapai titik kritis. Paolo Maldini dikabarkan mempertimbangkan pengunduran diri dari jabatan direktur teknis hanya 15 hari setelah resmi ditunjuk, menyusul kegagalan FIGC menunjuk pelatih kepala yang berujung pada kebuntuan internal.
FIGC awalnya membidik nama besar seperti Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti, namun keduanya menolak. Maldini kemudian beralih kepada rekan setimnya saat di AC Milan, Andrea Pirlo, yang saat ini melatih Dubai United di Uni Emirat Arab. Namun, rencana itu kandas setelah terungkap bahwa Pirlo menjadi duta global merek Fonbet, perusahaan judi asal Rusia. Status ini memicu persoalan hukum, moral, dan politik yang membuat FIGC memblokir pencalonannya. Pirlo sendiri pada Senin pagi mengonfirmasi bahwa ia tidak lagi dalam bursa pelatih.
Situasi tersebut membuat Maldini frustrasi. Beberapa media Italia melaporkan bahwa ia bisa saja mundur sebagai bentuk protes. FIGC pun bersiap menghadapi skenario terburuk. Presiden FIGC Giovanni Malagรฒ dijadwalkan menghadiri pertemuan dewan federal di Roma pada Selasa, dan jika Maldini benar-benar pergi, nama Giorgio Chiellini disebut-sebut sebagai pengganti potensial.
Chiellini, yang sebelumnya menjabat kepala hubungan institusional, kini menempati posisi Chief Club Affairs Officer. Menurut La Gazzetta dello Sport, jika ia menggantikan Maldini, ia kemungkinan akan mengajak mantan pelatihnya di Juventus, Antonio Conte, untuk menangani timnas. Conte dikenal sebagai pelatih disiplin dengan rekam jejak mentereng, namun ia juga kontroversial karena pendekatannya yang keras.
Indonesia, sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola Italia yang besar, patut mencermati dinamika ini. Kasus ini menunjukkan betapa rumitnya tata kelola sepak bola di level tertinggi. Transparansi dan itikad baik dalam rekrutmen pelatih menjadi pelajaran berharga bagi PSSI, yang kerap menghadapi kritik serupa. Kejelasan regulasi terkait sponsor judi juga menjadi sorotan, mengingat sepak bola Indonesia pernah diguncang skandal serupa.
Ke depan, keputusan Maldini akan menjadi penentu arah baru FIGC. Akankah ia bertahan dan mencari solusi lain, atau memilih hengkang dan membuka jalan bagi Chiellini serta Conte? Satu hal pasti: kekacauan ini meninggalkan luka di tubuh federasi yang tengah berusaha bangkit setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022.



