Van Bommel Resmi Nahkodai Belgia: Target Euro 2028 dan Ujian Berat di Nations League
Baca dalam 60 detik
- Mark van Bommel ditunjuk sebagai pelatih kepala Timnas Belgia dengan kontrak hingga Euro 2028, menggantikan Rudi Garcia yang mundur usai tersingkir di perempat final Piala Dunia 2026.
- Mantan kapten Belanda itu membawa pengalaman juara liga bersama Royal Antwerp, dan akan diuji langsung oleh Italia, Prancis, serta Turki di Nations League pada September-Oktober mendatang.
- Penunjukan ini menjadi sinyal ambisi Belgia untuk meremajakan skuad 'Golden Generation' yang mulai meredup, dengan harapan Van Bommel mampu membangun tim disiplin dan berani bersaing di level tertinggi.

Mark van Bommel resmi diperkenalkan sebagai pelatih baru Timnas Belgia, menandai babak baru bagi skuad berjuluk Setan Merah yang tengah merombak struktur kepelatihan pasca kegagalan di Piala Dunia 2026. Mantan gelandang Timnas Belanda itu meneken kontrak berdurasi hingga Euro 2028, dengan masa tugas efektif dimulai pada 15 Agustus mendatang.
Van Bommel, 49 tahun, menggantikan Rudi Garcia yang hengkang setelah Belgia disingkirkan Spanyol—yang akhirnya menjadi juara dunia—pada babak perempat final turnamen empat tahunan tersebut. Keputusan Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) menunjuk Van Bommel bukan tanpa pertimbangan. Sejak menukangi Royal Antwerp, ia sukses mempersembahkan tiga gelar domestik dalam dua musim: gelar liga, Piala Belgia, dan Piala Super Belgia. Rekam jejak itu dinilai sebagai bukti kemampuannya mengelola tim dengan tekanan tinggi.
Dalam pernyataan resminya, Van Bommel mengaku bangga mendapat kepercayaan menangani Belgia. "Belgia memiliki pemain luar biasa dan potensi besar. Bersama staf pelatih, kami ingin membangun tim yang disiplin, ambisius, dan berani bersaing dengan yang terbaik," ujarnya. Direktur Olahraga RBFA, Vincent Mannaert, menambahkan bahwa pengalaman internasional Van Bommel—baik sebagai pemain maupun pelatih—akan membantu Setan Merah terus berkembang dan mencapai potensi penuh.
Penunjukan ini menarik perhatian di Indonesia, mengingat banyak penggemar sepak bola Tanah Air yang mengikuti perkembangan Timnas Belgia sejak era 'Golden Generation' bersama Eden Hazard, Kevin De Bruyne, dan Romelu Lukaku. Kini, dengan generasi emas yang mulai memudar, Belgia membutuhkan figur tegas seperti Van Bommel untuk meremajakan skuad. Gaya kepelatihannya yang disiplin dan agresif diyakini cocok untuk membentuk identitas baru Belgia yang lebih pragmatis namun tetap menyerang.
Van Bommel bukan nama asing di pentas Eropa. Sebagai pemain, ia pernah membela PSV Eindhoven, Barcelona, Bayern Munich, dan AC Milan, serta menjadi kapten Timnas Belanda. Pengalaman itu memberinya wawasan taktik yang luas dan jaringan luas di sepak bola Eropa. Namun, tantangan terbesarnya adalah mengelola ekspektasi publik Belgia yang terbiasa dengan prestasi tinggi. Setelah kegagalan di Piala Dunia 2026, tekanan untuk segera meraih hasil positif akan langsung membayangi.
Langkah awal Van Bommel akan diuji dalam laga Nations League melawan tiga raksasa Eropa: Italia, Prancis, dan Turki. Hasil dari pertandingan-pertandingan itu akan menjadi indikator awal apakah pendekatannya mampu membawa perubahan. Pertanyaannya, mampukah Van Bommel mengulang kesuksesannya di Antwerp ke panggung yang jauh lebih besar? Atau justru beban sejarah Belgia yang akan kembali menghantuinya?



