Timnas Amputasi Inggris Terancam Gagal ke Piala Dunia Akibat Krisis Dana
Baca dalam 60 detik
- Tim amputasi Inggris, juara Nations League, butuh £50.000 untuk bertanding di Piala Dunia Meksiko November mendatang.
- Pendanaan FA untuk program amputasi dihentikan sejak 2006, memaksa tim bergantung pada donasi publik.
- Ketimpangan pendanaan ini kontras dengan pendapatan FA yang mencapai £516 juta dan bonus £21,5 juta untuk tim utama Inggris.

Tim nasional sepak bola amputasi putra Inggris terancam absen dari Piala Dunia Amputasi 2024 di Meksiko karena kekurangan dana. Mantan pelatih kepala Scott Rogers menyebut situasi ini "kriminal" mengingat prestasi tim yang merupakan juara bertahan Nations League.
Untuk bisa berangkat pada November mendatang, tim harus mengumpulkan dana sebesar £50.000 melalui kampanye GoFundMe. Hingga saat ini, baru terkumpul sekitar £32.427. "Saya melihat betapa keras para pemain dan staf bekerja, pengorbanan yang mereka dan keluarga lakukan. Sampai di titik ini dan tidak bisa berangkat, itu benar-benar kriminal," ujar Rogers kepada BBC Breakfast.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) memang mendanai tim para nasional lainnya, tetapi pendanaan untuk program amputasi dipotong sejak 2006. Sejak itu, England Amputee Football Association beroperasi sebagai badan amal yang mengandalkan sumbangan dan sukarelawan untuk mendukung tim putra, putri, dan kelompok junior. FA sempat menawarkan pendanaan setelah mengirim perwakilan ke Piala Dunia 2022, namun nilainya dinilai tidak mencukupi.
Ketimpangan pendanaan ini mencolok. Di musim 2024-25, FA mencatat total pendapatan £516 juta dengan laba operasi £6 juta. Sementara itu, tim utama Inggris yang finis ketiga di Piala Dunia 2024 memperoleh bonus £21,5 juta. "Ini gila. Kami seperti melawan sistem," kata kiper Thomas Atkinson. "Banyak tim lawan adalah profesional penuh waktu, dibayar harian oleh klub dan federasi. Kami jelas bukan tim seperti itu."
Atkinson menambahkan bahwa para pemain terpaksa menjadikan sepak bola sebagai "hobi" karena harus membayar untuk bermain, sementara tim lain justru dibayar. "Saya bahkan tidak minta dibayar. Saya hanya berpikir, sebagai organisasi, sebagai Inggris—salah satu negara sepak bola terbesar—seharusnya pemain tim nasional tidak perlu membayar untuk mengikuti turnamen. Ini gila, bukan?"
Krisis pendanaan tim amputasi Inggris menjadi cermin bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang juga memiliki potensi besar di sepak bola difabel. Di Indonesia, timnas amputasi dan para lainnya kerap menghadapi kendala serupa: minimnya dukungan pemerintah dan federasi, serta ketergantungan pada sponsor atau donasi. Jika Inggris—dengan infrastruktur sepak bola raksasa—saja kesulitan, bagaimana dengan negara berkembang? Kasus ini menegaskan perlunya model pendanaan berkelanjutan untuk olahraga difabel, bukan sekadar sumbangan sukarela.
BBC Sport telah menghubungi FA untuk dimintai tanggapan, namun belum ada respons resmi. Pertanyaan besarnya: akankah federasi sepak bola terkaya di dunia ini akhirnya turun tangan menyelamatkan tim amputasinya, atau membiarkan mereka bergantung pada uluran tangan publik?



