Gelombang Kenaikan Harga Pangan di Korea Selatan: Dampak Perang dan Pelemahan Won
Baca dalam 60 detik
- Produsen makanan ringan dan roti di Korea Selatan menaikkan harga produk akibat tekanan biaya dari perang di Asia Barat dan pelemahan won.
- Nongshim menaikkan harga 43 merek rata-rata 5,8%, namun mengecualikan mi instan untuk mengendalikan inflasi.
- Kenaikan harga ini berpotensi mempengaruhi pasar Indonesia yang mengimpor produk Korea dan menjadi sinyal inflasi global.

Produsen makanan dan roti Korea Selatan memutuskan menaikkan harga produk mereka di tengah tekanan biaya yang terus berlanjut akibat konflik di Asia Barat dan pelemahan mata uang won, seperti dilaporkan kantor berita Yonhap.
Nongshim Co., perusahaan di balik mi instan Shin Ramyun yang mendunia, akan menaikkan harga grosir 43 merek rata-rata 5,8 persen mulai bulan depan. Produk yang terkena kenaikan meliputi mi cup, camilan, dan minuman. Harga eceran camilan andalan mereka, Shrimp Crackers, naik dari 1.500 won menjadi 1.600 won (sekitar Rp18.000). Ini adalah kenaikan pertama dalam 17 bulan untuk merek camilan tersebut.
Perusahaan menyebut keputusan ini sebagai langkah yang โtidak terhindarkanโ karena kondisi bisnis yang memburuk dan tekanan biaya yang meningkat akibat depresiasi won serta kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi ketegangan di Asia Barat. Menariknya, Nongshim memutuskan untuk tidak menaikkan harga mi instan kemasan, yang menyumbang 63 persen penjualan mereka, demi menahan laju inflasi.
Tak hanya Nongshim, CJ Foodville Co. juga akan menaikkan harga roti dan kue yang dijual di jaringan Tous les Jours mulai 31 Juli, meski tetap mengecualikan produk populer untuk meringankan beban konsumen. Sementara itu, BR Korea Co., operator gerai Dunkin' Donuts di Korea Selatan, akan menaikkan harga 39 produk rata-rata 6,5 persen mulai 2 Agustus.
Tekanan inflasi di Korea Selatan memburuk seiring pelemahan won dan kenaikan harga minyak. Brent crude futures sempat menembus US$100 per barel akibat meningkatnya konflik di Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia. Korea Selatan sangat bergantung pada impor minyak, dengan sekitar 95 persen minyak dari Asia Barat melewati selat tersebut. Kenaikan biaya bahan baku seperti minyak goreng dan telur turut mendorong keputusan para produsen.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi sinyal waspada. Sebagai negara pengimpor produk makanan Korea, kenaikan harga di negeri ginseng berpotensi merembet ke pasar domestik. Selain itu, ketergantungan Indonesia pada impor minyak juga membuat risiko kenaikan harga komoditas global perlu diantisipasi. Bank Indonesia dan pemerintah perlu mencermati dinamika ini agar inflasi pangan tetap terkendali.
Ke depan, jika konflik di Asia Barat belum mereda dan won terus tertekan, bukan tidak mungkin gelombang kenaikan harga akan meluas ke sektor lain. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia menghadapi efek domino dari krisis biaya hidup di Korea Selatan?



