Jai Opetaia Gugat IBF ke Pengadilan AS: Gelar Juara Dunia Jadi Taruhan
Baca dalam 60 detik
- Petinju Australia Jai Opetaia menggugat IBF ke pengadilan federal Nevada setelah gelar kelas berat ringan dicabut akibat pertarungan di bawah Zuffa Boxing.
- Gugatan setebal 19 halaman menuding IBF dan badan sanksi lain berkolusi menghukum Opetaia karena bergabung dengan promotor baru bentukan Dana White.
- Kasus ini berpotensi mengubah lanskap bisnis tinju global, termasuk memicu revisi Undang-Undang Reformasi Tinju Muhammad Ali.

Petinju kelas berat ringan tak terkalahkan asal Australia, Jai Opetaia, resmi menggugat International Boxing Federation (IBF) ke pengadilan federal Amerika Serikat. Langkah hukum ini ditempuh setelah IBF mencabut gelar juara dunianya menyusul pertarungan yang digelar di bawah naungan Zuffa Boxing, promotor anyar yang didirikan oleh presiden UFC Dana White.
Gugatan yang diajukan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Nevada tersebut menuntut pengembalian gelar, ganti rugi, serta biaya hukum. Opetaia juga meminta pengadilan melarang IBF menunjuk juara kelas berat ringan baru selama proses litigasi berlangsung. IBF sendiri menolak berkomentar lebih lanjut, hanya menyatakan akan merilis pernyataan pada waktu yang tepat.
Menurut dokumen gugatan setebal 19 halaman yang diperoleh BBC Sport, Opetaia mengklaim bahwa keputusan IBF mencabut gelarnya adalah bagian dari persekongkolan industri yang lebih luas. Tujuannya, kata gugatan itu, adalah untuk menghukum Opetaia karena berafiliasi dengan Zuffa Boxing sekaligus menakut-nakuti petinju lain agar tidak melakukan hal serupa. Gugatan juga menyebut nama-nama perwakilan dari WBC, WBA, dan WBO sebagai pihak yang turut serta dalam "pembekuan" karier Opetaia.
Kasus ini bermula ketika Opetaia, yang memiliki rekor 30 kemenangan (23 KO), memutuskan bergabung dengan Zuffa Boxing pada awal 2025. Promotor baru yang didanai oleh Sela asal Arab Saudi dan perusahaan Amerika TKO ini langsung menggelar pertarungan perdananya di Las Vegas. IBF awalnya menyetujui laga tersebut dan bahkan menunjuk ofisial untuk mengawasi jalannya pertandingan. Namun, kurang dari dua hari sebelum pertarungan, IBF menarik sanksinya dan kemudian menganggap laga itu sebagai unifikasi gelar karena Zuffa juga memperebutkan sabuk juara kelas berat ringan mereka.
Opetaia mengaku ditempatkan dalam posisi yang mustahil: mundur dari pertarungan yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan dan kehilangan bayaran tujuh digit, atau tetap bertarung dengan risiko kehilangan gelar. Ia memilih opsi kedua dan menang, namun IBF tetap mencabut gelarnya. Dalam gugatan, Opetaia menyebut tindakan IBF sebagai "produk kolusi terkoordinasi di seluruh industri" yang dirancang untuk menghukumnya karena bergabung dengan Zuffa.
Preseden hukum memang ada. Pada 2004, WBC dipaksa bangkrut setelah kalah dalam pertarungan hukum melawan mantan juara Graciano Rocchigiani, yang menuntut pengakuan gelar dan kompensasi senilai 17 juta poundsterling. Kasus Opetaia bisa menjadi preseden baru yang mengguncang tatanan bisnis tinju global.
"Para konspirator dan, yang terbaru, WBC telah mengambil langkah-langkah untuk membekukan Jai dari pertarungan lain di masa depan," demikian bunyi gugatan tersebut.
Zuffa Boxing, yang diluncurkan pada Juni 2025, secara terang-terangan menantang dominasi promotor dan badan sanksi tradisional. Promotor ini hanya mengakui delapan divisi dengan satu juara Zuffa di masing-masing kategori. Dana White telah menyatakan tidak akan bergantung pada gelar tradisional WBA, WBC, WBO, dan IBF. Ia bahkan mendorong perubahan pada Undang-Undang Reformasi Tinju Muhammad Ali (2000) agar sabuk Zuffa diakui sebagai gelar dunia yang sah.
Langkah Zuffa mulai mendapat momentum. Petinju welter Conor Benn hengkang dari Matchroom Boxing pada Februari, disusul juara empat divisi Shakur Stevenson yang baru saja bergabung. Stevenson saat ini memegang gelar WBO kelas ringan, meski belum jelas apakah ia akan dicopot setelah pindah. Sementara itu, petinju kelas berat ringan Amerika Richardson Hitchins mengosongkan gelar IBF-nya demi Zuffa, dan bintang pound-for-pound Oleksandr Usyk dikabarkan akan menyusul setelah melepas sabuk WBA, IBF, dan WBC.
Bagi dunia tinju Indonesia, kasus Opetaia menjadi pengingat bahwa perubahan besar sedang terjadi di panggung global. Jika Zuffa berhasil mereformasi regulasi dan mendapatkan pengakuan setara dengan badan sanksi mapan, maka akses petinju Tanah Air untuk bertarung di level dunia bisa terbuka lebih lebar, tanpa harus tunduk pada birokrasi IBF atau WBC. Namun, jika gugatan Opetaia kandas, dominasi badan sanksi lama akan semakin kokoh. Pertanyaannya, akankah pengadilan AS berpihak pada petinju atau pada status quo industri tinju?



