Atlet Paralimpiade Inggris Dilarang Dua Tahun karena Doping Tak Sengaja
Baca dalam 60 detik
- Daphne Schrager, peraih medali perak Paralimpiade Paris 2024, dilarang bertanding selama dua tahun setelah positif Ligandrol dalam tes doping di luar kompetisi.
- Badan Anti-Doping Inggris (UKAD) menerima argumen bahwa zat tersebut tidak dikonsumsi secara sengaja, namun atlet gagal membuktikan sumber kontaminasi lingkungan.
- Sanksi yang berlaku mundur memungkinkan Schrager tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028, tetapi ia harus absen dari Commonwealth Games 2026.

Atlet balap sepeda Paralimpiade Inggris, Daphne Schrager, harus menerima kenyataan pahit setelah panel anti-doping menjatuhkan sanksi larangan bertanding selama dua tahun akibat jejak zat terlarang yang ditemukan dalam tubuhnya. Meski mengklaim tidak pernah berniat curang, atlet berusia 25 tahun itu gagal meyakinkan pengadilan bahwa kontaminasi berasal dari lingkungan sekitarnya.
Schrager, yang menyumbang medali perak bagi Inggris di nomor pursuit individu 3000 meter putri kelas C1-3 pada Paralimpiade Paris 2024, dinyatakan positif Ligandrol—senyawa yang dikenal mampu meningkatkan massa otot dan kepadatan tulang secara selektif. Zat itu terdeteksi dalam sampel yang diambil saat tes di luar kompetisi tahun lalu, dengan konsentrasi sangat kecil, yakni 0,0006 nanogram.
Dalam proses persidangan, UK Anti-Doping (UKAD) mencatat bahwa Schrager mengajukan dua skenario kemungkinan sumber kontaminasi: pertama, dari gym tempat ia menerima pijat; kedua, dari lingkungan rumah bersama. Namun, panel menilai meskipun tidak ada unsur kesengajaan, atlet tersebut tidak mampu membuktikan secara meyakinkan bahwa kontaminasi terjadi secara tidak sengaja melalui lingkungan.
Dalam pernyataan panjang di Instagram, Schrager mengaku bahwa kabar positif doping tersebut menghancurkan dunianya. Ia kehilangan kontrak, tim, dan struktur yang selama ini menjadi tujuan serta identitasnya. “Menghadapi kemungkinan larangan empat tahun kecuali saya bisa membuktikan bahwa hasil ini tidak disengaja benar-benar menyedihkan,” tulisnya. Panel memang mengonfirmasi bahwa ia tidak sengaja mengonsumsi atau menggunakan Ligandrol, dan kontaminasi lingkungan dari jejak sangat kecil menjadi penyebabnya.
Yang menarik, meski sanksi dijatuhkan, seluruh hasil perlombaan Schrager tidak didiskualifikasi. UKAD mengakui bahwa jejak Ligandrol yang ditemukan tidak memberikan keuntungan performa apa pun. Namun, aturan anti-doping yang ketat tetap mengharuskan pembuktian sumber kontaminasi secara pasti—sesuatu yang menurut Schrager hampir mustahil dilakukan karena waktu yang terlalu lama antara pengambilan sampel dan pemberitahuan hasil.
“Dalam kasus seperti saya, saat atlet diberi tahu hasil positif, terlalu banyak waktu telah berlalu untuk mengidentifikasi sumber kontaminasi dengan kepastian yang diminta aturan. Itu bukan kegagalan kejujuran atau usaha, melainkan beban yang terlalu berat untuk dipenuhi dalam setiap kasus,” ujarnya.
Schrager, yang hidup dengan cerebral palsy, mengakui dampak signifikan terhadap kesehatan mentalnya. “Ini adalah salah satu periode tersulit dalam hidup saya,” katanya. Meski demikian, ia bertekad kembali bertanding pada 2027 dan menatap Paralimpiade Los Angeles 2028 sebagai target utama. Sebelum skorsing, ia baru saja meraih dua medali emas di Piala Dunia Balap Sepeda Jalan Raya Para pada Mei 2025 di kelas C2.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya edukasi atlet tentang risiko kontaminasi lingkungan, terutama di fasilitas bersama. Dengan semakin banyaknya atlet Indonesia yang berkiprah di ajang internasional, pemahaman mendalam tentang aturan anti-doping dan potensi kontaminasi tak sengaja perlu ditingkatkan. Apakah sistem deteksi dini dan pendampingan hukum yang memadai sudah tersedia bagi atlet tanah air?



