Pep Guardiola Tolak Pinangan Timnas Italia, Pilih Rehat dari Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Pep Guardiola menolak tawaran melatih Italia setelah FIGC memberikan keleluasaan penuh dan gaji fantastis.
- FIGC kini mengalihkan fokus ke Andrea Pirlo sebagai kandidat utama untuk membawa Italia lolos ke Euro 2028.
- Keputusan Guardiola mengonfirmasi rencananya untuk mengambil jeda panjang dari dunia kepelatihan.

Pep Guardiola secara resmi menolak tawaran untuk menangani Tim Nasional Italia, memilih untuk tetap pada rencana awalnya: rehat dari hiruk-pikuk sepak bola setelah meninggalkan Manchester City pada Mei lalu. Keputusan ini mengakhiri spekulasi selama sepekan terakhir setelah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mengakui telah melakukan pendekatan serius kepada pelatih asal Spanyol tersebut.
Presiden FIGC, Giovanni Malago, sebelumnya mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengadakan pembicaraan dengan Guardiola dan siap memberikan pengecualian khusus terkait gajinya yang sangat tinggi. Tak hanya itu, FIGC disebut-sebut memberikan kebebasan penuh kepada Guardiola untuk membentuk tim sesuai keinginannya—sebuah tawaran yang nyaris tak tertolak bagi pelatih mana pun. Namun, setelah mempertimbangkan secara matang, Guardiola memilih untuk tidak menerima tantangan membesut Gli Azzurri.
FIGC sejatinya juga telah menjajaki opsi lain, termasuk Carlo Ancelotti yang kini menangani Brasil. Namun, Ancelotti memutuskan untuk bertahan di posisinya. Direktur teknis FIGC, Paolo Maldini, mengungkapkan bahwa Ancelotti adalah pilihan pertama sebelum akhirnya Guardiola masuk dalam radar. Kini, dengan mundurnya Guardiola, FIGC harus segera mencari alternatif.
Keputusan Guardiola untuk menolak Italia bukanlah hal yang mengejutkan jika melihat pernyataan sebelumnya. Ia selalu menegaskan keinginannya untuk beristirahat setelah periode panjang yang melelahkan di Manchester. Istirahat ini akan dimanfaatkannya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan bepergian. Bagi Guardiola, jeda ini adalah prioritas di atas tawaran menggiurkan dari FIGC.
Dengan hengkangnya Guardiola, FIGC kini mengarahkan pandangan kepada Andrea Pirlo. Pelatih yang saat ini menangani United FC di Dubai itu dianggap sebagai figur yang tepat untuk membangun kembali tim Italia. Tugas pertamanya akan sangat berat: membawa Italia melewati fase grup Nations League yang dihuni Prancis, Belgia, dan Turki, serta memastikan tiket ke Euro 2028. Pirlo sendiri bukanlah nama asing di sepak bola Italia; ia adalah legenda yang pernah membawa Juventus dan timnas meraih berbagai gelar.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak. Italia, yang pernah menjadi kiblat taktik sepak bola dunia, kini tengah berjuang bangkit dari keterpurukan. Kegagalan lolos ke tiga Piala Dunia berturut-turut menjadi tamparan keras bagi federasi. Keputusan Guardiola untuk menolak menangani Italia menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi FIGC. Sementara itu, Pirlo—yang pernah menjadi idola banyak penggemar di Indonesia era 2000-an—kini mendapat kesempatan emas untuk membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih di panggung internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Pirlo mengembalikan kejayaan Italia? Atau justru FIGC akan kembali mencari pelatih asing dengan reputasi lebih mentereng? Satu hal yang pasti, perjalanan Italia menuju Euro 2028 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi regenerasi sepak bola Negeri Pizza.



