Le Clos Incar Rekor Medali Pria Terbanyak di Commonwealth Games: 'Saya Masih Lapar'
Baca dalam 60 detik
- Chad le Clos, perenang Afrika Selatan, mengincar rekor sebagai atlet pria paling sukses dalam sejarah Commonwealth Games dengan 18 medali yang ia miliki saat ini.
- Setelah mengalami masalah mental dan cedera, ia mendapat reset fisik berkat saran sang ayah untuk istirahat total selama 12 pekan.
- Le Clos kini juga fokus mengembangkan akademi renang di Afrika Selatan yang telah memiliki 13 klub dan 3.000 anggota, sebagai bagian dari warisannya.

Chad le Clos, perenang asal Afrika Selatan, siap menorehkan sejarah baru di Commonwealth Games Glasgow 2026 dengan ambisi memecahkan rekor sebagai atlet pria paling banyak meraih medali sepanjang gelaran multievent tersebut. Saat ini ia mengoleksi 18 medali—tujuh emas, empat perak, dan tujuh perunggu—yang menyamai catatan penembak Australia Phil Adams dan Inggris Mick Gault.
Le Clos, yang debut di Delhi 2010 saat masih duduk di bangku sekolah menengah, mengaku sudah delapan tahun lamanya beban ini menghantuinya. "Seharusnya saya sudah mendapatkan gelar itu pada 2018. Saya seharusnya bisa melewati garis finis dengan satu atau dua medali tambahan," ujarnya dalam wawancara dengan BBC World Service. Pada edisi Birmingham 2022, ia hanya mampu menyumbang satu perak di nomor 200 meter kupu-kupu, yang membuatnya sejajar dengan rekor, namun belakangan ia mengungkapkan bahwa persiapannya terganggu oleh masalah kesehatan mental.
Kegagalan di Paris 2024—tersingkir di babak penyisihan 100 meter kupu-kupu—dan serangkaian cedera membuat Le Clos nyaris menyerah. Namun saran sang ayah, Bert, untuk mengambil cuti total selama 12 pekan tanpa berenang, gym, atau aktivitas apa pun menjadi titik balik. "Itu adalah reset fisik. Tubuh saya sempat pulih. Saya bersyukur masih bisa berenang," kata perenang berusia 34 tahun itu.
Kini Le Clos menjadi yang tertua di kolam renang, dengan lawan-lawan yang rata-rata berusia 19-22 tahun. "Saya 10 tahun lebih tua dari yang tertua. Gila rasanya berpikir bahwa pada 2010 mereka baru berusia tiga atau empat tahun," ujarnya. Meski demikian, ia tidak merasa bahwa Commonwealth Games akan menentukan warisannya. "Apa yang sudah saya lakukan di kolam sudah berbicara sendiri. Bahkan jika saya tidak mendapat medali pun, saya akan tetap berusaha maksimal," tegasnya.
Di luar kolam, Le Clos telah mendirikan akademi renang di Afrika Selatan yang kini memiliki 13 klub dan lebih dari 3.000 anggota. Ia menargetkan ekspansi hingga 50 klub dalam dua tahun ke depan. "Saya berenang untuk lebih dari sekadar diri sendiri, keluarga, dan Afrika Selatan. Saya berenang untuk generasi berikutnya yang sedang saya bimbing," katanya. Akademi ini, menurutnya, telah menyelamatkan hidupnya dan memberinya perspektif baru. "Saya benar-benar tidak perlu berada di sini lagi. Saya benar-benar ingin berada di sini. Saya lebih lapar dari sebelumnya," tambahnya.
Dengan semangat yang masih membara, Le Clos belum berniat pensiun dan menargetkan tampil di Olimpiade Los Angeles 2028—yang akan menjadi Olimpiade kelimanya. "Itu adalah obat yang menggigit saya sejak usia dini, dan saya masih belum bisa melepaskannya. Selama saya masih bisa bersaing memperebutkan medali di final, tidak ada alasan untuk pensiun," pungkasnya.
Bagi perenang Afrika Selatan ini, Glasgow 2026 bukan sekadar ajang pemecah rekor, melainkan juga pembuktian bahwa usia dan kegagalan bukanlah akhir. Pertanyaannya, akankah generasi muda perenang Indonesia—yang masih minim prestasi di level multievent—bisa meniru kegigihan Le Clos dalam mengejar mimpi?



