Buffon Tolak Tawaran Kembali ke Timnas Italia: Belum Waktunya
Baca dalam 60 detik
- Gianluigi Buffon menolak tawaran Paolo Maldini untuk mengisi peran operasional di Club Italia, menyusul kekalahan Italia di play-off Piala Dunia.
- Keputusan ini menambah daftar panjang penolakan figur top yang mendekati FIGC, setelah Guardiola dan Ancelotti juga batal menjadi pelatih.
- Buffon memilih rehat dari sepak bola untuk fokus pada keluarga dan mempersiapkan karier manajerial di masa depan.

Gianluigi Buffon memutuskan untuk tidak menerima pinangan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang menginginkannya kembali ke tubuh tim nasional, menambah daftar kekecewaan di kubu Azzurri yang tengah merombak struktur kepelatihan. Legenda kiper berusia 47 tahun itu disebut-sebut telah menolak tawaran langsung dari direktur teknis anyar FIGC, Paolo Maldini, untuk mengisi peran operasional di Club Italia—badan yang mengawasi seluruh kelompok umur timnas.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Maldini dan penasihatnya Leonardo memang tengah memburu sejumlah figur untuk mengisi posisi kunci setelah gagal mendatangkan Pep Guardiola maupun Carlo Ancelotti sebagai pelatih kepala. Andrea Pirlo kini muncul sebagai kandidat terdepan untuk kursi pelatih, namun di sisi lain Maldini juga ingin memperkuat struktur manajerial dengan merekrut Buffon. Tawaran yang diberikan bukan sekadar jabatan seremonial, melainkan peran langsung yang membutuhkan keterlibatan harian dalam pembinaan tim.
Buffon sebenarnya bukan wajah baru di lingkungan FIGC. Ia sempat menjabat sebagai kepala delegasi timnas Italia, tetapi mengundurkan diri bersama Gennaro Gattuso dan mantan Presiden FIGC Gabriele Gravina setelah kekalahan memalukan dari Bosnia dan Herzegovina di play-off Piala Dunia Maret lalu. Kekalahan itu membuat Italia gagal lolos ke turnamen akbar untuk ketiga kalinya secara beruntun—sebuah noda besar bagi negara empat kali juara dunia.
Maldini, yang dikenal sebagai legenda AC Milan, sangat menginginkan kehadiran Buffon karena pengaruh dan pengalamannya. Buffon tidak hanya menjadi ikon di ruang ganti, tetapi juga memahami dinamika skuad saat ini. Namun, Buffon menilai bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk kembali ke hiruk-pikuk sepak bola. Kariernya nyaris tanpa jeda sejak debut profesional pada 1995, pensiun pada 2023, lalu langsung mengambil peran di timnas Italia pada tahun yang sama. Setelah mengundurkan diri pada April lalu, ia memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan terus belajar untuk karier sebagai manajer atau direktur di masa depan.
Keputusan Buffon ini menjadi pukulan lain bagi FIGC yang tengah berjuang memulihkan citra sepak bola Italia. Di tengah krisis identitas dan kegagalan beruntun, kehilangan figur sekaliber Buffon bisa memperlambat proses regenerasi. Namun, dari sudut pandang pribadi, langkah ini menunjukkan kedewasaan Buffon yang tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan tanpa persiapan matang. Ia lebih memilih untuk 'belajar' terlebih dahulu, seperti yang diungkapkan dalam laporan Gazzetta, sebelum benar-benar terjun ke dunia manajemen sepak bola.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Buffon menjadi pengingat bahwa transisi dari pemain ke manajer tidak selalu mulus. Banyak legenda yang gagal di kursi pelatih karena kurangnya persiapan. Buffon, dengan pengalaman panjangnya, justru memilih jalan yang lebih hati-hati—sebuah pelajaran berharga bagi para pemain senior yang bercita-cita menjadi petinggi klub atau federasi. Pertanyaan besarnya kini: akankah FIGC mampu menemukan figur pengganti yang sepadan, atau justru akan kembali terpuruk dalam kebuntuan?



