Foto Harimau Kurus Viral: Manajemen KBS Buka Suara soal Satwa Sumbangan dan Kasus Korupsi Rp10,2 M
Baca dalam 60 detik
- Foto harimau kurus yang viral di media sosial dipastikan oleh pihak KBS sebagai dokumentasi tahun 2009, bukan kondisi terkini.
- Harimau tersebut merupakan satwa sumbangan warga yang mengalami gangguan pencernaan akibat kebiasaan makan nasi rawon, dan mati setahun kemudian.
- Di tengah kasus dugaan korupsi Rp10,2 miliar oleh mantan direktur, KBS menegaskan operasional perawatan satwa tidak terganggu dan kondisi saat ini jauh lebih baik.

Foto seekor harimau Sumatera dengan tubuh kurus kering yang beredar luas di media sosial memicu gelombang kritik terhadap pengelolaan Kebun Binatang Surabaya (KBS), namun pihak manajemen memastikan gambar tersebut merupakan arsip lama yang tidak mencerminkan kondisi terkini taman satwa tersebut.
Kepala Seksi Humas KBS, Lintang Ratri Sunarwidhi, mengonfirmasi bahwa foto yang memperlihatkan tulang rusuk dan panggul harimau menonjol itu diambil pada 2009, jauh sebelum pengelolaan KBS diambil alih oleh Pemerintah Kota Surabaya. Menurut Lintang, harimau tersebut merupakan satwa sumbangan warga yang terbiasa diberi pakan nasi rawon oleh pemilik sebelumnya, sehingga mengalami gangguan pencernaan kronis. "Itu sudah mati dari tahun 2009," ujarnya, Kamis (23/7).
Viralnya foto ini terjadi bersamaan dengan pengungkapan kasus dugaan korupsi senilai Rp10,2 miliar yang melibatkan mantan Direktur Utama PD Taman Satwa KBS, Choirul Anwar (CA). Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan CA sebagai tersangka atas dugaan mark up anggaran pakan satwa dan penggelapan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi selama periode 2016โ2024. Modus yang digunakan, menurut Aspidsus Kejati Jatim I Gede Punia Atmaja, adalah mengurangi porsi pakan satwa namun melaporkan anggaran seolah-olah sesuai.
Lintang menyesalkan penyebaran foto lama yang dinilainya tidak relevan dengan kondisi KBS saat ini. Ia menegaskan bahwa sejak diambil alih oleh pemerintah kota pada 2012, KBS mengalami perbaikan signifikan dalam infrastruktur, kandang, dan standar pakan. "Pakan-pakan disesuaikan dengan standarnya. Sudah kita lakukan sesuai dengan pengawasan," katanya. Ia juga memastikan tidak ada satwa yang kekurangan pakan saat ini, dan kematian satwa hanya terjadi karena faktor usia atau sakit, bukan kelaparan.
Kasus korupsi yang menjerat mantan direktur disebut tidak akan berdampak pada operasional harian KBS. Lintang berjanji perawatan satwa dan pelayanan pengunjung akan terus ditingkatkan. Namun, publik masih menunggu transparansi penuh dari pengelola KBS dan proses hukum terhadap CA, terutama terkait dugaan bahwa praktik mark up anggaran pakan telah berlangsung bertahun-tahun. Pertanyaan besarnya: apakah perbaikan yang diklaim KBS mampu bertahan di tengah sorotan kasus korupsi dan tekanan publik?



