IHSG Terjun Bebas di Sesi II: Asing Tarik Rp1,22 Triliun dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Setelah sempat menguat 1% di sesi pertama, IHSG ditutup melemah 0,30% ke 6.315,31 akibat aksi jual asing yang membalikkan arus dana.
- Investor asing tercatat net sell Rp1,224 triliun pada sesi kedua, membalikkan posisi net buy Rp164,6 miliar di sesi pertama—total pembalikan Rp1,39 triliun.
- Tekanan jual terfokus pada saham blue chip seperti BBCA (Rp484,3 miliar) dan TPIA (Rp367,9 miliar), mengindikasikan kekhawatiran asing terhadap prospek pasar Indonesia.

Reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat melesat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (23/7/2026) kandas di sesi kedua. Aksi jual besar-besaran oleh investor asing memaksa indeks berbalik arah dan ditutup melemah 0,30% ke level 6.315,31, setelah sempat menyentuh puncak harian di 6.454,31.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp23,89 triliun dengan volume 59,78 miliar saham. Sebanyak 343 saham menguat, 309 melemah, dan 313 stagnan. Namun yang paling mencolok adalah perubahan drastis arus dana asing: pada akhir sesi pertama, investor asing masih mencatatkan net buy Rp164,6 miliar, tetapi tekanan jual di sesi kedua mengubahnya menjadi net sell Rp1,224 triliun. Artinya, dalam waktu kurang dari setengah hari perdagangan, terjadi pembalikan arus dana asing sekitar Rp1,39 triliun—sebuah sinyal yang jarang terjadi dalam satu sesi.
Aksi jual asing terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) menjadi yang paling tertekan dengan net sell Rp484,3 miliar, disusul Chandra Asri Pacific (TPIA) Rp367,9 miliar, Astra International (ASII) Rp130,3 miliar, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp98,5 miliar, dan Telkom Indonesia (TLKM) Rp29,2 miliar. Pola ini mengindikasikan bahwa investor asing tidak hanya melakukan profit taking, tetapi juga melakukan repositioning portofolio secara agresif.
Bagi investor domestik, fenomena ini menjadi pengingat akan volatilitas pasar modal Indonesia yang masih sangat bergantung pada sentimen asing. Dalam sepekan terakhir, IHSG memang menunjukkan tren penguatan, namun aksi jual mendadak seperti ini kerap dipicu oleh faktor eksternal—misalnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed atau kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Analis menilai bahwa arus keluar dana asing sebesar Rp1,22 triliun dalam sehari merupakan sinyal bahwa investor global sedang mengurangi eksposur ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Meski demikian, data menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik masih relatif stabil. Inflasi terkendali, cadangan devisa memadai, dan pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap di atas 5%. Namun, ketergantungan pada aliran modal asing membuat IHSG rentan terhadap perubahan sentimen global. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data inflasi AS dan keputusan suku bunga Bank Indonesia sebagai penentu arah pergerakan selanjutnya. Apakah aksi jual ini hanya koreksi sesaat atau awal dari tren pelemahan yang lebih panjang?



