IHSG Terjun Bebas ke 6.180: Tarif Trump dan Minyak US$100 Bikin Investor Kabur
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham domestik ambles 2,13% ke 6.180,67 pada Jumat pagi akibat aksi jual besar-besaran di saham perbankan dan big caps.
- Tekanan berasal dari kebijakan tarif AS 10-12,5% yang menyasar Indonesia serta harga minyak Brent yang menembus US$100 per barel.
- Investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp920,3 miliar sehari sebelumnya, memperkuat kekhawatiran akan arus keluar modal asing.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibanting hingga lebih dari 2% pada awal perdagangan Jumat (24/7/2026), menyentuh level 6.180,67 di tengah kepanikan yang dipicu oleh kombinasi kebijakan tarif baru Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel. Aksi jual massal terjadi sejak bel pembukaan, dengan 556 saham tertekan dan hanya 99 saham yang mampu bertahan di zona hijau.
Tekanan terbesar datang dari sektor keuangan yang ambles 1,44%, menjadikannya sektor dengan performa terburuk hari itu. Saham-saham bank jumbo seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi pemberat utama indeks. BMRI sendirian memangkas 11,97 poin IHSG, disusul BBCA yang menyumbang tekanan 7,47 poin. Aksi jual asing yang sudah terjadi sehari sebelumnya—mencatatkan net sell Rp920,3 miliar di pasar reguler—kian memperparah situasi.
Dari sisi eksternal, sentimen negatif datang dari kebijakan Presiden AS Donald Trump yang resmi memberlakukan tarif impor baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia. Langkah ini memicu kekhawatiran akan perang dagang baru yang dapat menekan ekspor Indonesia dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Di saat bersamaan, konflik di Timur Tengah yang kembali memanas mendorong harga minyak Brent melonjak 7% ke US$100,69 per barel—level psikologis yang terakhir kali terlihat dua bulan lalu.
Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global akan kembali meroket, sehingga bank-bank sentral, termasuk Bank Indonesia, mungkin terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bagi investor domestik, kondisi ini berarti biaya pinjaman tetap mahal dan likuiditas pasar semakin ketat. Sektor properti yang justru menguat 5,41% menjadi pengecualian, kemungkinan karena aksi bargain hunting setelah pelemahan sebelumnya.
Analis menilai bahwa kombinasi tekanan geopolitik, kenaikan harga komoditas, dan aksi jual asing menciptakan badai sempurna bagi IHSG. "Investor asing cenderung mengurangi eksposur ke pasar emerging market saat ketidakpastian global meningkat. Indonesia, dengan ketergantungan pada impor energi dan ekspor komoditas, menjadi salah satu yang paling rentan," ujar seorang analis pasar modal yang enggan disebut namanya.
Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada respons pemerintah Indonesia terhadap kebijakan tarif AS serta perkembangan konflik Timur Tengah. Apakah Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuan untuk menstabilkan rupiah? Atau justru ada insentif fiskal yang bisa meredam gejolak? Jawabannya akan menentukan apakah IHSG bisa bangkit kembali atau justru melanjutkan koreksi menuju level 6.000.



