Topan Noul Terjang China, 340 Ribu Warga Dievakuasi dalam Badai Terkuat Tahun Ini
Baca dalam 60 detik
- Topan Noul menerjang Guangdong, China, dengan kecepatan angin 162 km/jam, menjadi badai terkuat di negara itu sepanjang 2026.
- Lebih dari 340.000 orang mengungsi, penerbangan dibatalkan, dan tanggap darurat dinaikkan ke level tertinggi kedua di provinsi terdampak.
- Sebelumnya, topan ini menewaskan tiga orang di Filipina dan merusak ratusan rumah, sementara China menggelontorkan dana 100 juta yuan untuk pemulihan.

Topan Noul menghantam pantai selatan China pada Minggu dini hari, memaksa lebih dari 340.000 warga mengungsi dan menghentikan layanan kereta serta penerbangan di kawasan itu. Badai yang menjadi yang terkuat di China tahun ini ini melanda Provinsi Guangdong sekitar pukul 03.50 waktu setempat, dekat Kota Pinghai—sekitar 80 kilometer timur laut pusat keuangan Hong Kong, demikian laporan stasiun televisi CCTV.
Kecepatan angin maksimum di dekat pusat badai saat mencapai daratan tercatat 162 kilometer per jam. Otoritas setempat awalnya menaikkan respons darurat bencana ke level ketiga tertinggi, lalu dinaikkan lagi ke level kedua dalam waktu singkat pada Minggu pagi. Langkah ini diambil setelah prediksi cuaca ekstrem mendorong evakuasi massal dan penghentian sementara kegiatan ekonomi di pesisir.
Sebelum menguat di Laut China Selatan, Topan Noul telah meninggalkan jejak kerusakan di Filipina bagian utara. Badan penanggulangan bencana Filipina melaporkan tiga orang tewas dan satu hilang, sementara lebih dari 9.300 warga mengungsi serta 235 rumah rusak. Di Hong Kong, pemerintah menerima lebih dari 100 laporan pohon tumbang dan sembilan orang terluka. Bandara Hong Kong membatalkan setidaknya 350 penerbangan pada hari Minggu.
Peringatan dari Observatorium Hong Kong menyebutkan bahwa meskipun Noul mulai melemah saat bergerak ke pedalaman Guangdong, angin kencang masih melanda banyak tempat, termasuk angin badai sesekali di daerah tinggi. "Noul bergerak stabil ke pedalaman Guangdong dan melemah secara progresif, tetapi angin kencang masih mempengaruhi banyak tempat di Hong Kong, dengan angin badai sesekali di daerah tinggi," demikian pernyataan observatorium. Badai diperkirakan akan terus membawa hujan deras hingga Selasa, meliputi provinsi Jiangxi, Hunan, Hubei, bahkan hingga Henan dan Shandong di utara.
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China telah mengalokasikan dana 100 juta yuan (sekitar Rp220 miliar) untuk mendukung pemulihan pascabadai di Guangdong, termasuk rekonstruksi jalan dan infrastruktur yang rusak. Bagi Indonesia, meski tidak terdampak langsung, topan ini mengingatkan akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim siklon tropis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu terus memantau perkembangan di Samudra Pasifik karena pola cuaca ekstrem dapat memengaruhi gelombang tinggi dan distribusi curah hujan di wilayah barat Indonesia. Dengan intensitas badai yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim, sistem peringatan dini dan mitigasi bencana menjadi krusial bagi kawasan Asia Tenggara.
"Setelah mencapai daratan, Noul akan bergerak ke pedalaman, membawa angin kencang dan hujan ke provinsi Jiangxi, Hunan dan Hubei," ujar CCTV dalam laporannya. Curah hujan akibat topan diperkirakan berlangsung hingga Selasa, termasuk di provinsi sejauh Henan dan Shandong.
Ke depan, pertanyaan kunci adalah apakah China dan negara tetangga mampu memperkuat infrastruktur untuk menghadapi badai yang kian ganas. Dana pemulihan yang digelontorkan mungkin cukup untuk perbaikan darurat, tetapi dibutuhkan investasi jangka panjang dalam sistem perlindungan pantai dan tata kota yang tangguh. Jika tren peningkatan intensitas siklon berlanjut, skala evakuasi dan kerusakan seperti yang terjadi pada Topan Noul bisa menjadi gambaran awal dari musim badai yang lebih ekstrem.



