Pensiun Setelah 35 Tahun, Wakil Kepala Polisi Malaysia Peringatkan Ancaman Terorisme Siber
Baca dalam 60 detik
- Wakil Inspektur Jenderal Polisi Malaysia Tan Sri Ayob Khan Mydin Pitchay pensiun setelah 35 tahun bertugas, menekankan pentingnya integritas dalam kepemimpinan.
- Ia memperingatkan perubahan modus operandi kelompok militan yang kini lebih banyak merekrut melalui game online dan platform digital, menyasar remaja.
- Pernyataan ini menjadi pengingat bagi negara tetangga seperti Indonesia untuk memperkuat deteksi dini serangan siber dan radikalisasi daring.

Setelah 35 tahun mengabdikan diri di kepolisian, Wakil Inspektur Jenderal Polisi Malaysia Tan Sri Ayob Khan Mydin Pitchay resmi memasuki masa pensiun pada Minggu (24/7/2026). Dalam pidato perpisahannya, ia tidak hanya melontarkan candaan tentang kemungkinan menjadi penjual roti canai, tetapi juga menyampaikan peringatan serius mengenai ancaman terorisme yang kian berubah bentuk.
Ayob Khan, yang dikenal sebagai tokoh kunci dalam pemberantasan terorisme di Malaysia, mengungkapkan bahwa kelompok militan dan ekstremis kini beralih ke dunia maya untuk merekrut anggota. Menurutnya, proses radikalisasi tidak lagi dilakukan secara tatap muka, melainkan melalui portal daring, termasuk permainan multipemain. โAncaman dari kelompok-kelompok ini tidak akan pernah berakhir,โ ujarnya dalam peluncuran buku autobiografinya, Dari Pendang Ke Bukit Aman: Jejak Integriti.
Ia menambahkan bahwa ideologi yang digunakan pun telah bergeser. Tidak lagi semata-mata berbasis agama, tetapi juga dipicu oleh rasa marah yang mendalam. โDalam beberapa kasus penangkapan terbaru, kami mendapati pelaku masih remaja belasan tahun. Modus operandinya berubah, dan polisi harus berada di garis depan untuk mendeteksinya,โ tegas Ayob Khan. Ia memperingatkan bahwa jika aparat bersikap pasif dan reaktif, serangan di Malaysia bisa terjadi kapan saja.
Peringatan Ayob Khan ini relevan bagi Indonesia yang juga menghadapi tantangan serupa. Dalam beberapa tahun terakhir, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat peningkatan konten radikal di media sosial, termasuk yang menyasar kalangan pelajar. Metode rekrutmen melalui game seperti PlayerUnknown's Battlegrounds atau Mobile Legends pernah terdeteksi di sejumlah wilayah. Kepala BNPT, Komjen Pol. Rycko Amelza Dahniel, sebelumnya menekankan perlunya kolaborasi lintas negara untuk memutus rantai radikalisasi digital.
Ayob Khan juga menyoroti pentingnya integritas dalam institusi kepolisian. โTanpa integritas, pengalaman, kualifikasi, pangkat, dan bahkan kekayaan tidak berarti apa-apa,โ katanya. Ia mengaku tidak pernah kompromi terhadap pelanggaran, tanpa memandang pangkat atau posisi. Buku autobiografinya, menurut dia, bertujuan untuk menyoroti pengorbanan dan kontribusi personel kepolisian, khususnya di divisi intelijen yang kerap bekerja di balik layar. โPublik biasanya melihat polisi melakukan penangkapan atau penyelidikan, tetapi mereka tidak melihat banyak operasi rahasia yang dilakukan untuk melindungi negara,โ ungkapnya.
Ke depan, tantangan bagi kepolisian Malaysia dan Indonesia adalah beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan taktik kelompok teroris. Apakah aparat keamanan di kedua negara mampu memperkuat deteksi dini dan mencegah serangan sebelum terjadi? Jawabannya akan menentukan keamanan kawasan di era digital ini.



