Sir Tom Jones Buka Suara: Klaim Dipecat ITV dari The Voice, Singgung Usia 86 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Legenda musik asal Wales itu menegaskan bahwa kepergiannya dari kursi juri The Voice UK bukanlah keputusan pribadi, melainkan inisiatif sepihak dari stasiun televisi ITV.
- ITV disebut beralasan ingin 'menyegarkan' acara dengan formasi juri baru, namun Sir Tom mengaku sempat diberi tahu bahwa alasannya adalah masalah finansial terkait asuransi.
- Meski ditawari peran sebagai 'super mentor' dengan keterlibatan terbatas, Sir Tom menyiratkan kekecewaannya dan menilai keputusan tersebut tidak adil bagi seseorang seusianya yang masih produktif.

Sir Tom Jones, ikon musik berusia 86 tahun, angkat bicara setelah kabar mengejutkan tentang masa depannya di ajang pencarian bakat The Voice UK. Dalam pernyataan tegas yang diunggah di akun Instagram pribadinya, ia mengungkapkan bahwa keputusan untuk tidak lagi duduk sebagai juri penuh datang dari pihak stasiun televisi ITV, bukan atas kemauannya sendiri. Ia bahkan secara gamblang menyebut dirinya "dipecat" oleh broadcaster tersebut.
Pernyataan ini muncul setelah media Inggris, The Sun, melaporkan pada Senin (7/9) bahwa Sir Tom akan mundur dari peran sebagai pelatih setelah hampir 14 tahun mengabdi, dan digantikan oleh formasi juri baru yang lebih segar. Kabar tersebut menyebutkan bahwa Aitch dan Cheryl akan bergabung dengan will.i.am dan Kelly Rowland di kursi juri. Sir Tom, yang dikenal dengan lagu legendaris "Delilah", disebut akan kembali sebagai "super mentor" di babak selanjutnya.
Namun, Sir Tom membantah narasi tersebut. Dalam unggahannya, ia menegaskan, "Yang perlu diperjelas, saya tidak ingin meninggalkan The Voice karena saya mencintai acara ini dan sangat menghargai penontonnya." Ia mengaku bahwa keputusan itu sepenuhnya diambil oleh ITV, dan awalnya alasan yang diberikan adalah "kesulitan finansial terkait asuransi". Belakangan, pihak ITV beralasan ingin "menyegarkan" acara dengan susunan juri baru, sehingga tidak ada kursi tersisa untuknya.
Lebih lanjut, pelantun "It's Not Unusual" itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap tawaran peran yang jauh lebih kecil. "Mereka menawarkan peran yang sangat dikurangi, di mana saya hanya akan tampil tanpa benar-benar terlibat dari awal, dan saya tidak antusias dengan itu," tulisnya. Ia menutup pernyataannya dengan nada sinis, "Jadi satu-satunya hal yang saya tahu sekarang adalah tidak pernah ada waktu yang tepat untuk memecat seseorang berusia 86 tahun yang masih cukup mahir dalam pekerjaannya."
Di sisi lain, seorang sumber internal The Voice membantah adanya ketegangan. Kepada surat kabar Metro, sumber tersebut menyatakan, "ITV sangat senang bekerja sama dengan Sir Tom. Mereka sedang dalam pembicaraan dengannya dan berharap dia akan kembali ke serial ini." Namun, sumber lain yang berbicara kepada The Sun mengakui adanya kebutuhan akan perubahan besar. "Semua orang menyukai Sir Tom, tetapi ada perasaan bahwa seri mendatang membutuhkan penyegaran besar. Dengan hadirnya Aitch dan Cheryl, serta kembalinya Kelly bersama will.i.am, tidak ada kursi yang tersedia," ujarnya.
Kontroversi ini menyoroti dinamika industri televisi hiburan yang kerap mengorbankan figur senior demi mengejar demografi penonton yang lebih muda. Bagi pengamat media, langkah ITV ini merupakan strategi berisiko, mengingat Sir Tom memiliki basis penggemar setia yang mungkin kecewa dengan keputusannya. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi pada ajang pencarian bakat lokal yang kerap melakukan pergantian juri secara mendadak, memicu perdebatan di media sosial tentang loyalitas dan inovasi.
Meski demikian, peluang rekonsiliasi masih terbuka. Sumber internal menyebut ITV masih berharap Sir Tom mau kembali, setidaknya dalam kapasitas tertentu. Namun, nada pernyataan Sir Tom mengindikasikan bahwa ia tidak akan menerima peran yang dianggapnya sekadar tempelan. Pertanyaannya, akankah ITV melunak dan memberikan tawaran yang lebih layak, atau justru semakin memperkuat keputusan mereka dengan formasi baru yang dinilai lebih segar? Keputusan ini akan menentukan arah The Voice UK di musim-musim mendatang, sekaligus menjadi ujian bagaimana industri menghargai kontribusi para veteran.



