Fenomena Upwelling dan El Nino Bertemu, Nelayan Indonesia Berpotensi Raih Berkah atau Petaka?
Baca dalam 60 detik
- Upwelling di perairan selatan Indonesia sejak Juni 2026 diperkuat El Nino, memicu lonjakan produktivitas ikan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
- Tanpa kesiapan infrastruktur seperti cold storage dan distribusi, kelimpahan ikan justru berpotensi menjatuhkan harga dan merugikan nelayan kecil.
- Fenomena ini menjadi ujian bagi tata kelola perikanan nasional untuk mengubah berkah alam menjadi kesejahteraan yang merata.

Fenomena alam yang langka terjadi di perairan selatan Indonesia: upwelling yang membawa nutrien dari dasar laut ke permukaan berlangsung bersamaan dengan kedatangan El Nino, menciptakan potensi ledakan produksi ikan yang belum pernah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik berkah ini, para ahli mengingatkan bahwa tanpa persiapan yang matang, kelimpahan tangkapan bisa berubah menjadi mimpi buruk bagi nelayan kecil.
Widodo Setiyo Pranomo, peneliti oseanografi terapan dari BRIN, menjelaskan bahwa sejak Juni lalu, proses upwelling telah terdeteksi di Laut Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. Mekanisme alami ini mendorong massa air kaya nutrien ke permukaan, yang menjadi santapan fitoplankton—fondasi rantai makanan laut. Akibatnya, ikan-ikan pelagis kecil dan besar berbondong-bondong mendatangi wilayah tersebut. “Produktivitas perikanan meningkat tajam,” ujarnya.
Yang membuat situasi ini istimewa adalah kehadiran El Nino yang memperkuat dan memperluas cakupan upwelling. Tanpa El Nino, massa air hanya naik sekitar 5–10 meter dari permukaan. Namun, dengan El Nino, air naik hingga ke lapisan paling atas, terkena sinar matahari langsung. Widodo memperkirakan, jika upwelling biasa berlangsung hingga Agustus, El Nino bisa memperpanjang periode ini hingga November 2026. “Kekuatan dan kecepatan massa air meningkat, wilayah upwelling meluas,” katanya.
Namun, kelimpahan ikan tidak otomatis berarti keuntungan. Jonson Lumban Gaol, guru besar IPB University, mengingatkan bahwa pengalaman pahit pernah terjadi pada 2019 dan 2023. Saat itu, upwelling intensif memicu produksi ikan pelagis kecil melonjak, tetapi harga justru jatuh drastis. Nelayan di Sukabumi, Banyuwangi, dan Pengambengan menjadi korban utama. “Ketersediaan es, cold storage, dan sarana distribusi adalah dukungan yang harus ada,” tegas Jonson.
Fenomena ini juga memiliki dimensi unik bagi Indonesia. Berbeda dengan Peru yang mengalami penurunan produksi ikan anchoveta akibat El Nino pada 1972–1973, di perairan Indonesia El Nino justru memperkuat upwelling. Hal ini terjadi karena angin Monsun Tenggara yang bertiup bersamaan membantu mendorong air permukaan yang hangat ke barat, sehingga air dingin kaya nutrien naik ke permukaan. “Upwelling di Indonesia bisa meningkatkan produksi perikanan hingga kelimpahan sumber daya ikan,” kata Jonson.
Kendati demikian, pemerintah daerah dan pusat diharapkan segera bergerak. Nelayan kecil perlu diberikan akses terhadap infrastruktur pendingin dan jalur distribusi yang memadai. Jika tidak, kata Widodo, “kelimpahan ikan akan sia-sia.” Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu mengelola berkah alam ini agar tidak menjadi bumerang bagi mereka yang paling bergantung pada laut?



