Karier Hampir Berakhir: Loris Karius Buka Suara soal Masa Kelam di Liverpool
Baca dalam 60 detik
- Kiper Schalke Loris Karius mengaku sempat mempertimbangkan pensiun dini setelah blunder fatal di final Liga Champions 2018.
- Dukungan psikologis tak membantunya pulih; ia justru bangkit sendiri dan kini kembali ke Bundesliga bersama Schalke.
- Kisah Karius menjadi pengingat akan tekanan mental di sepak bola profesional, relevan bagi atlet Indonesia yang kerap menghadapi sorotan serupa.

Loris Karius, kiper Schalke 04 yang kini bersiap tampil di Bundesliga musim 2025/26, mengakui bahwa dirinya sempat berpikir untuk mengakhiri karier setelah dua kesalahan fatal di final Liga Champions 2018 bersama Liverpool. Kini, setelah bertahun-tahun berjuang melawan tekanan mental, ia kembali ke panggung tertinggi sepak bola Jerman.
Karius menjadi sorotan dunia setelah dua blunder yang membawa Liverpool kalah 1-3 dari Real Madrid di Kyiv. Gol Karim Benzema dan Gareth Bale membuat namanya dihujat habis-habisan. Padahal, sebelumnya karier kiper asal Jerman itu menanjak pesat. "Sampai saat itu karier saya hanya naik tajam, lalu tiba-tiba saya jatuh keras โ sampai ke titik terendah," ujarnya kepada Funke Media Group.
Dampak psikologisnya begitu dalam. Karius mengaku kehilangan gairah bermain sepak bola dan bahkan mempertimbangkan pensiun di usia 25 tahun. Ia mencari bantuan dari pelatih kesehatan mental, namun sesi-sesi itu tidak membantunya keluar dari jeratan depresi. "Saya bahkan berpikir untuk mengakhiri karier, tapi saya baru berusia 25 tahun dan tidak bisa hanya diam di rumah. Selama bertahun-tahun, entah bagaimana saya berhasil keluar dari masa rendah ini sendirian," kenangnya.
Perjalanan Karius setelah malam kelam di Kyiv penuh liku. Ia dipinjamkan ke Beลiktaล, lalu bermain untuk Union Berlin dan Newcastle United, sebelum akhirnya menganggur. Schalke memberinya kesempatan pada Januari 2025, dan ia membayar kepercayaan itu dengan penampilan solid yang mengantar klub promosi sebagai juara. Kini, ia kembali merasakan atmosfer Bundesliga yang ia rindukan.
"Siapa lagi yang bisa bilang mereka bermain di depan 60.000 penggemar setiap dua minggu? Hanya superstar absolut dari industri musik yang bisa melakukannya di luar olahraga," kata Karius, menggambarkan kebahagiaannya bermain di Veltins-Arena. Schalke akan memulai musim baru dengan laga tandang ke Augsburg pada 30 Agustus, lalu menjamu juara bertahan Bayern Munich di kandang.
Kisah Karius menjadi pengingat bahwa tekanan mental di sepak bola profesional bisa menghancurkan karier seorang atlet. Di Indonesia, fenomena serupa kerap dialami pemain yang mendapat sorotan tajam setelah blunder atau performa buruk. Dukungan psikologis yang memadai masih menjadi tantangan di banyak klub Tanah Air. Pertanyaannya, apakah sepak bola Indonesia sudah siap memberikan perlindungan mental yang layak bagi para pemainnya?



