William Shatner, 95, Hadapi Kanker dengan Keyakinan pada Alam Semesta
Baca dalam 60 detik
- Aktor legendaris Star Trek itu mengaku tidak takut mati karena meyakini dirinya adalah bagian dari vibrasi kosmik.
- Ia dan putrinya yang juga penyintas kanker akan meluncurkan podcast bertajuk 'No Time but Now' untuk berbagi filosofi hidup.
- Shatner menekankan pentingnya menyadari keindahan di sekitar, meskipun dalam kondisi sulit seperti kemiskinan.

Pada usia 95 tahun, William Shatner, ikon serial Star Trek, tetap memancarkan optimisme yang tak biasa. Setelah berhasil mengalahkan kanker melanoma metastatik stadium empat yang didiagnosis pada 2023, ia justru semakin teguh pada keyakinannya bahwa kematian bukanlah akhir. Bagi Shatner, alam semesta adalah kumpulan vibrasi, dan ia adalah bagian dari getaran itu.
Dalam wawancara dengan People magazine, Shatner mengungkapkan bahwa ia tidak percaya dirinya akan mati. "Mereka bilang, 'Kamu kena kanker. Jika datang lebih lambat, kamu sudah mati.' Ya, lihat? Itulah hidupku," ujarnya. Ia menambahkan, "Aku pikir aku punya vibrasi, dan alam semesta ternyata juga vibrasi. Ini bukan apa-apa." Baginya, kesadaran akan keajaiban sehari-hari—seperti melihat burung kolibri atau memikirkan anjing dan anak-anaknya—adalah cara untuk tetap terhubung dengan kehidupan.
Namun, Shatner tidak naif terhadap realitas penderitaan. Ia mengakui bahwa mudah bagi seseorang yang hidup berkecukupan untuk berkata, "Buatlah hidupmu berarti." Jauh lebih sulit bagi mereka yang bergelut dengan kemiskinan. "Aku mengerti itu. Aku pernah mengalaminya. Tapi tetap mungkin untuk bertahan dan menyadari keindahan di sekitarmu—keindahan kesadaran yang memungkinkanmu menghargai daun, alam semesta, atau sebuah hubungan. Itulah yang sangat penting. Tidak ada waktu selain sekarang," katanya.
Filosofi ini menjadi fondasi podcast baru yang akan ia luncurkan bersama putrinya, Melanie Shatner Gretsch. Keduanya sama-sama penyintas kanker; Melanie berjuang melawan kanker stadium 4 jenis lain pada saat yang sama dengan ayahnya. Podcast bertajuk No Time but Now ini akan mewawancarai berbagai kalangan tentang cara membuat hidup berarti saat ini juga. Shatner menyebut proses rekaman sebagai "pengalaman yang mulia". "Orang-orang yang kami ajak bicara, lebih dari sekali, mereka berkata, 'Bisa kita makan malam?' Itu sendiri sudah menjadi pengalaman yang mulia," tuturnya.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Shatner menawarkan perspektif tentang resiliensi di tengah krisis kesehatan. Di tengah meningkatnya kasus kanker dan kesadaran akan kesehatan mental, pendekatan Shatner yang menggabungkan penerimaan spiritual dan apresiasi terhadap momen kecil bisa menjadi inspirasi. Namun, perlu diingat bahwa akses terhadap layanan kesehatan dan dukungan psikologis di Indonesia masih timpang. Filosofi "tidak ada waktu selain sekarang" mungkin terasa elitis bagi mereka yang berjuang untuk kebutuhan dasar. Meski demikian, pesan untuk menemukan keindahan dalam kesadaran—entah itu daun, senyum anak, atau secangkir kopi—tetap relevan di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban.
Ke depan, pertanyaan yang muncul: mampukah kita, seperti Shatner, merangkul ketidakpastian hidup dengan kesadaran penuh? Ataukah filosofi semacam ini hanya milik mereka yang telah melewati batas usia dan pengalaman? Yang jelas, Shatner membuktikan bahwa usia dan penyakit bukanlah halangan untuk terus mencari makna.



