Drama Play-off Empat Lubang: Casey Kalah Dramatis, Lawrence Pertahankan Gelar European Masters
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Afrika Selatan, Thriston Lawrence, sukses mempertahankan gelar juara European Masters setelah mengalahkan Paul Casey dalam play-off dramatis empat lubang di Crans-Montana, Swiss.
- Casey, yang sempat unggul enam pukulan di babak final, gagal memanfaatkan empat peluang putt untuk memenangkan turnamen dan harus puas menjadi runner-up.
- Kemenangan ini menjadi gelar ketiga Lawrence di turnamen tersebut, menyamai rekor legenda Seve Ballesteros, sekaligus memperkuat posisinya di kancah golf Eropa.

Pertarungan sengit di pegunungan Alpen Swiss berakhir dengan kekecewaan bagi Paul Casey. Pegolf asal Inggris itu harus mengakui keunggulan juara bertahan asal Afrika Selatan, Thriston Lawrence, setelah play-off dramatis empat lubang di European Masters, Minggu (8/9). Kekalahan ini terasa pahit karena Casey, yang sempat memimpin enam pukulan di babak final, gagal memanfaatkan empat peluang putt untuk merebut gelar ke-16 di DP World Tour.
Turnamen yang digelar di Crans-sur-Sierre Golf Club ini menyajikan duel menegangkan sejak awal. Casey, yang berusia 49 tahun, memulai hari dengan keunggulan nyaman, namun performanya justru menurun drastis. Ia kehilangan pukulan di tiga dari delapan hole pertama, termasuk double bogey di hole keenam. Sempat tertinggal, Casey bangkit dengan lima birdie dalam tujuh hole untuk memimpin lagi, tetapi kegagalan di hole terakhir memaksanya berbagi skor imbang 18-under dengan Lawrence.
Lawrence, yang tampil luar biasa dengan 62 pukulan di babak final, berhasil memaksakan play-off. Dalam babak penentuan yang digelar di hole ke-18 yang terkenal sulit, kedua pemain saling beradu ketahanan. Casey nyaris menang di play-off kedua dengan putt 10 kaki yang meleset tipis, dan di play-off ketiga, putt delapan kakinya bahkan sempat menyentuh bibir lubang sebelum keluar. Akhirnya, di play-off keempat, Lawrence berhasil mengonversi putt birdie setelah Casey gagal melakukan chip dari tepi green.
Kemenangan ini menjadi gelar ketiga Lawrence di European Masters, menyamai catatan legenda golf Spanyol, Seve Ballesteros. "Ini mungkin emosi terbesar yang pernah saya tunjukkan dengan cara yang bahagia," ujar Lawrence, yang mencatat delapan birdie tanpa bogey. "Saya berjuang keras dan memberikan segalanya. Saya merasa kasihan pada Paul, dia bermain hebat dan sepanjang hari terlihat seperti miliknya. Dia melewatkan beberapa putt pendek, tapi ini perasaan terbaik di dunia."
Di sisi lain, Casey, yang berkompetisi di LIV Golf, harus mengubur mimpinya untuk menang lagi di DP World Tour sejak Dubai Desert Classic 2021. Namun, ada sisi lain yang mengharukan dari kekalahannya. Casey sebelumnya berjanji akan menyumbangkan seluruh hadiah kemenangannya kepada korban kebakaran malam Tahun Baru yang menewaskan 40 orang di Crans-Montana. Meski hanya menjadi runner-up, ia tetap akan menyumbangkan hadiah sebesar $412.500 (sekitar Rp6,3 miliar) kepada Fondation Beloved.
Bagi penggemar golf Indonesia, duel ini menjadi tontonan menarik karena menunjukkan betapa ketatnya persaingan di level tertinggi Eropa. Selain itu, aksi sosial Casey yang tetap menyumbang meski kalah menjadi pelajaran berharga tentang sportivitas dan kepedulian. Sementara itu, Harry Hall dari Inggris finis di posisi ketiga dengan skor 17-under setelah mencatat 63 pukulan di babak final.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Casey masih punya kesempatan untuk meraih kemenangan lagi di usianya yang mendekati 50 tahun, atau apakah Lawrence akan terus mendominasi European Masters seperti Ballesteros di masanya? Yang jelas, turnamen tahun ini telah memberikan drama yang tak terlupakan, baik bagi para pemain maupun penggemar golf di seluruh dunia.



