Bandara Soetta Lumpuh akibat Abu Krakatau, InJourney Kerahkan Bus Gratis ke Empat Kota
Baca dalam 60 detik
- Penutupan Bandara Soekarno-Hatta memicu InJourney Airports menyiapkan delapan bus gratis untuk mengangkut penumpang ke Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya.
- Layanan ini merupakan bagian dari protokol Service Recovery Activation yang juga diterapkan di bandara lain dengan rute ke empat kota terdampak.
- Operasional penerbangan akan terus dievaluasi seiring perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Lumpuhnya operasional Bandara Soekarno-Hatta akibat hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memaksa PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) bergerak cepat. Manajemen bandara menyiapkan armada bus gratis untuk mengevakuasi ribuan penumpang yang tertahan, dengan empat kota tujuan utama: Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya.
Langkah ini diambil setelah otoritas penerbangan memutuskan menghentikan seluruh aktivitas di bandara tersibuk di Indonesia itu demi keselamatan penerbangan. Abu vulkanik yang menyebar luas sejak akhir pekan dinilai membahayakan mesin pesawat dan visibilitas pilot, sehingga penutupan total menjadi pilihan paling rasional meski berdampak besar pada mobilitas masyarakat.
Corporate Secretary Group Head InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, menjelaskan bahwa penyediaan transportasi darurat ini merupakan bagian dari prosedur Service Recovery Activation (SRA). "Kami mengaktifkan SRA untuk memastikan penumpang yang terdampak tetap bisa melanjutkan perjalanan darat," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (6/9/2026). Pada tahap awal, delapan bus disiapkan—masing-masing dua unit untuk tiap kota—dengan keberangkatan perdana dijadwalkan pukul 21.00 WIB malam ini.
Yang menarik, prosedur ini tidak hanya berjalan di Bandara Soekarno-Hatta. InJourney Airports juga memberlakukan SRA di empat bandara lain yang terdampak langsung sebaran abu, serta di bandara-bandara yang memiliki rute penerbangan menuju empat kota tersebut. Artinya, penumpang yang transit atau hendak terbang ke Yogyakarta, Solo, Semarang, atau Surabaya dari kota lain juga akan mendapat penanganan serupa, meski bentuknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bandara.
Bagi penumpang yang masih berada di terminal, staf bandara akan memberikan informasi langsung mengenai tata cara pendaftaran bus. Posko-posko didirikan di Terminal 1, 2, dan 3 untuk memudahkan koordinasi. InJourney Airports juga membagikan makanan dan minuman ringan, serta menyiapkan ruang tunggu khusus agar para calon penumpang tetap nyaman selama menunggu kepastian jadwal.
Penutupan Bandara Soekarno-Hatta ini menjadi ujian besar bagi kesiapan infrastruktur transportasi nasional menghadapi bencana alam. Meski prosedur SRA sudah berjalan, pertanyaan besar muncul: seberapa cepat bandara bisa beroperasi normal kembali? Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih fluktuatif membuat kepastian waktu pembukaan kembali menjadi sulit diprediksi. InJourney Airports menyatakan akan terus mengevaluasi situasi dan menambah armada bus jika permintaan meningkat.
Para calon penumpang diimbau untuk tidak datang ke bandara sebelum memastikan status penerbangan mereka melalui maskapai masing-masing. Informasi terbaru juga bisa dipantau melalui kanal resmi InJourney Airports. Di tengah ketidakpastian ini, skenario perpanjangan penutupan hingga beberapa hari ke depan bukan mustahil terjadi—terutama jika arah angin masih membawa abu vulkanik ke wilayah udara Jakarta dan sekitarnya.
Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat akan kerentanan sektor penerbangan Indonesia terhadap bencana geologi. Dengan rute penerbangan yang padat dan ketergantungan tinggi pada Bandara Soetta, dampak ekonomi dari penutupan semacam ini bisa mencapai triliunan rupiah. Apakah industri penerbangan nasional sudah cukup tangguh menghadapi skenario terburuk? Hanya waktu dan evaluasi menyeluruh yang bisa menjawabnya.



