Man City Masuk Perburuan Lamine Camara: Gelandang Rp950 Miliar Jadi Target Baru Setelah Enzo Fernandez
Baca dalam 60 detik
- Manchester City mengirim pemantau untuk menyaksikan aksi Lamine Camara saat Monaco mengalahkan PSG, menandakan minat serius klub Premier League itu.
- Gagalnya Chelsea mengamankan tanda tangan gelandang Senegal itu membuka peluang bagi City, yang kini bersaing dengan Liverpool dan Arsenal.
- Statistik pertahanan Camara yang impresif, termasuk 6,7 tekel per 90 menit, menjadikannya kandidat ideal untuk menggantikan peran Rodri di lini tengah City.

Manchester City dikabarkan telah memasuki persaingan untuk merekrut gelandang AS Monaco, Lamine Camara, setelah Chelsea gagal menyelesaikan kesepakatan di bursa transfer musim panas. Langkah ini menjadi sinyal ambisi The Citizens untuk memperkuat lini tengah mereka pasca-kepergian Rodri ke Barcelona, dengan Camara yang dianggap sebagai salah satu prospek muda paling menjanjikan di Eropa.
Menurut laporan TEAMtalk, City telah mengirim pemantau bakat untuk menyaksikan aksi Camara saat Monaco menaklukkan Paris Saint-Germain 2-1 pada akhir pekan lalu. Kehadiran pemantau tersebut mengindikasikan bahwa direktur olahraga anyar City, Hugo Viana, serius menjadikan pemain berusia 22 tahun itu sebagai prioritas utama. Namun, persaingan dipastikan ketat karena Chelsea, Liverpool, dan Arsenal juga disebut-sebut masih memantau situasi sang pemain.
Camara sendiri tampil impresif bersama Monaco pada awal musim ini. Ia menjadi starter dalam tiga pertandingan Ligue 1 dan mencatatkan rata-rata 51,0 umpan akurat per 90 menit, tertinggi di skuad asuhan Filipe Luis. Lebih dari itu, torehan 6,7 tekel per 90 menit menempatkannya di atas rata-rata gelandang Premier League, hanya kalah dari rekrutan anyar Crystal Palace, Anan Khalaili. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Camara bukan sekadar gelandang bertahan biasa, melainkan pemain dengan kemampuan membaca permainan yang baik dan agresivitas tinggi dalam merebut bola.
Kebutuhan City akan gelandang bertahan baru semakin mendesak setelah Mateo Kovacic, yang kontraknya hampir habis, hanya tampil 42 menit dalam dua penampilan di Premier League musim ini. Performa Kovacic yang menurun membuat lini tengah City kehilangan keseimbangan, terutama setelah Rodri hengkang ke Barcelona. Dalam konteks ini, Camara dinilai sebagai solusi jangka panjang yang tepat. Dengan 37 caps bersama timnas Senegal, pengalaman internasionalnya tidak perlu diragukan, dan musim lalu ia juga menyumbangkan tiga gol serta empat assist di Ligue 1.
Pujian juga datang dari pemantau bakat Ben Mattinson, yang menyebut etos kerja Camara di luar bola sebagai sesuatu yang "gila". Menurut Mattinson, Camara memiliki kemampuan berlari tanpa bola yang luar biasa, mampu menutup ruang dengan cepat, dan sering melakukan tekel sliding tepat waktu. Karakteristik semacam ini sangat cocok dengan filosofi permainan City yang mengandalkan pressing tinggi dan penguasaan bola.
Bagi pembaca di Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub top Eropa berlomba mendapatkan gelandang bertahan berkualitas. Di tengah maraknya Liga 1 yang juga menuntut ketangguhan lini tengah, perkembangan ini bisa menjadi referensi bagi klub-klub Indonesia dalam merekrut pemain asing. Selain itu, dengan semakin banyaknya pemain Afrika yang bersinar di Eropa, peluang pemain-pemain Asia Tenggara untuk menembus liga top pun semakin terbuka lebar.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan Monaco yang enggan melepas Camara di menit-menit akhir bursa. Jika City serius, mereka harus menyiapkan tawaran yang lebih menggiurkan, mungkin di atas ยฃ50 juta. Pertanyaannya, apakah City bersedia membayar mahal untuk pemain yang belum terbukti di Premier League? Atau akankah mereka menunggu hingga Januari untuk kembali mencoba? Yang jelas, saga transfer Camara masih akan menjadi sorotan hingga bursa ditutup.



