Desain Hunian Ramah Perawatan: Studi BCA Singapura Ungkap Potensi Penghematan Biaya hingga Rp1 Miliar per Tahun
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Bangunan Singapura (BCA) merilis studi yang membuktikan bahwa penambahan fitur perawatan pada tahap desain hanya menaikkan biaya konstruksi 0,2-1,5%, namun mampu menghemat biaya operasional tahunan hingga S$1 juta.
- Dua proyek percontohan, Copen Grand dan Shaw Tower, menunjukkan bahwa akses gondola, plafon setinggi 3 meter, dan sistem pembersihan terintegrasi dapat mempercepat perawatan serta mengurangi kebutuhan perancah.
- Temuan ini mendorong pengembang dan pembeli properti di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk mulai mempertimbangkan aspek maintainability sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar biaya tambahan.

Investasi kecil pada tahap perencanaan bangunan ternyata mampu menekan biaya perawatan hingga puluhan tahun ke depan. Sebuah studi terbaru dari Building and Construction Authority (BCA) Singapura mengungkap bahwa penambahan fitur desain yang memudahkan perawatan hanya menambah 0,2 hingga 1,5 persen dari total biaya konstruksi, namun berpotensi menghemat biaya operasional tahunan hingga S$1 juta atau setara lebih dari Rp11 miliar.
Studi yang dilakukan BCA bersama konsultan teknik Surbana Jurong ini menganalisis empat properti di Singapura—tiga gedung komersial dan satu hunian vertikal. Hasilnya, sebagian besar fitur tersebut memiliki periode pengembalian investasi kurang dari enam tahun untuk proyek komersial dan di bawah lima tahun untuk residensial. Temuan ini dipresentasikan Menteri Pembangunan Nasional Chee Hong Tat pada pembukaan Singapore Archifest 2026, Rabu (22/7).
Salah satu contoh paling konkret adalah Copen Grand, kondominium baru di kawasan Tengah. Bangunan ini dirancang dengan ruang akses selebar 1,2 meter di sekeliling fasad, memungkinkan petugas menggunakan sistem gondola untuk membersihkan atau mengecat ulang tanpa perlu mendirikan perancah. Plafon setinggi tiga meter juga memudahkan teknisi menjangkau instalasi AC dan kelistrikan. Menurut arsitek Markus Cheng dari ADDP Architects, fitur semacam itu harus direncanakan sejak awal karena sulit diterapkan setelah bangunan jadi, terutama di lahan terbatas seperti Singapura.
Pendekatan serupa diterapkan pada Shaw Tower, gedung perkantoran di Beach Road yang baru direnovasi. Sistem rel terintegrasi memungkinkan satu crane membersihkan atau mengganti panel kaca eksterior, sementara tangga permanen (cat ladder) memudahkan perawatan menara pendingin tanpa perancah sementara. Darren Burrows dari Beca, konsultan yang menangani desain bangunan, menekankan bahwa banyak komponen bangunan memerlukan servis rutin mingguan, bulanan, atau tahunan. “Kami harus memikirkan cara mengeluarkan komponen besar dari gedung secara aman dan hemat biaya,” ujarnya.
BCA mengakui bahwa studi ini lahir dari permintaan para pelaku industri yang menginginkan bukti kuantitatif mengenai kelayakan investasi desain ramah perawatan. Deva Lutchia, manajer utama departemen transformasi manajemen fasilitas BCA, mengatakan bahwa pengembang dan pemilik gedung secara intuitif memahami pentingnya fitur tersebut, tetapi selama ini kekurangan data angka pasti. “Studi ini memberikan angka konkret yang memperkuat argumen bisnis untuk mendesain bangunan yang mudah dirawat,” katanya.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat maraknya pembangunan apartemen dan gedung perkantoran di kota-kota besar. Biaya perawatan yang tinggi kerap menjadi keluhan penghuni dan pengelola. Jika pengembang lokal mengadopsi prinsip serupa—misalnya menyediakan akses perawatan fasad tanpa perancah atau menggunakan material yang mudah dibersihkan—beban iuran bulanan penghuni bisa ditekan. Namun, tantangannya adalah kesadaran dan insentif: di Indonesia, belum ada regulasi yang mewajibkan aspek maintainability dalam desain, dan banyak pengembang masih fokus pada biaya konstruksi awal.
Ke depan, BCA berencana menyebarluaskan temuan ini kepada arsitek, insinyur, dan pengembang untuk mendorong adopsi yang lebih luas. Otoritas itu juga berharap kesadaran publik meningkat sehingga calon pembeli rumah mulai mempertimbangkan fitur kemudahan perawatan saat memilih properti. Pertanyaannya, mampukah pasar properti Indonesia—dengan karakternya yang berbeda—mengikuti jejak Singapura dalam menjadikan maintainability sebagai standar desain, bukan sekadar opsi tambahan?



