LPS dan Otoritas Keuangan Bongkar Jurus Investasi Kaum Muda: Bijak Alokasi Gaji, Waspada Phishing
Baca dalam 60 detik
- Lampung Financial Festival 2026 menjadi ajang edukasi bagi generasi muda untuk memahami instrumen investasi aman seperti SBN, emas, dan deposito.
- Para pembicara menekankan pentingnya mengalokasikan penghasilan sejak awal untuk tabungan dan investasi, bukan menunggu sisa di akhir bulan.
- Kewaspadaan terhadap phishing dan penawaran investasi tidak jelas menjadi pesan kunci agar anak muda tidak menjadi korban kejahatan digital.

Ribuan anak muda Lampung mendapatkan resep langsung dari para pemangku kebijakan keuangan dan perbankan dalam Lampung Financial Festival 2026 hari kedua, Minggu (6/9/2026). Mereka diingatkan bahwa kunci sukses finansial bukan pada besarnya nominal gaji, melainkan pada kedisiplinan mengalokasikan penghasilan sejak awal—sebelum bergeser ke gaya hidup.
Acara yang digelar di Novotel Bandar Lampung ini merupakan kolaborasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan CNBC Indonesia. Sejumlah tokoh kunci hadir, mulai dari Anggota Dewan Komisioner LPS Dody Zulverdi, Dirjen SPSK Kemenkeu Herman Saheruddin, direksi BRI dan BSI, hingga Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu serta pengusaha Chairul Tanjung. Mereka kompak menyuarakan pentingnya literasi keuangan di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap menjebak generasi muda pada investasi abal-abal.
Dody Zulverdi membuka diskusi dengan menegaskan peran strategis perbankan sebagai penopang ekonomi. Ia menyebut bank bukan sekadar tempat menyimpan uang (store of wealth), melainkan juga sumber pembiayaan usaha dan fasilitator sistem pembayaran. "Itulah kenapa bank perlu dijaga," ujarnya. Jika ada bank yang gagal akibat salah kelola, LPS akan turun tangan mengambil alih melalui penyetoran modal. Namun, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada sebelum menitipkan simpanan—sebuah sinyal bahwa proteksi negara punya batas.
Senada, Herman Saheruddin dari Kementerian Keuangan memaparkan tiga instrumen investasi yang dijamin negara: Surat Berharga Negara (SBN), emas, dan deposito. Menurutnya, instrumen ini aman karena diterbitkan dan dijamin langsung oleh pemerintah. "Kementerian Keuangan itu tugasnya sebagai bendahara. Untuk membangun negara, perlu pendapatan," jelas Herman. Ia menekankan bahwa SBN adalah salah satu cara masyarakat ikut membiayai pembangunan sekaligus mendapatkan imbal hasil yang pasti.
Dari sisi perbankan, Achmad Royadi, Direktur Finance & Strategy BRI, menyoroti kebiasaan generasi muda yang kerap menabung dari sisa pengeluaran. "Jangan sampai uang yang diinvestasikan itu tunggu ada sisanya di akhir bulan. Dari awal sudah dialokasikan untuk jaga-jaga, baru sisanya untuk konsumsi dan lifestyle," tegasnya. Pola pikir ini, menurutnya, menjadi pembeda antara mereka yang sekadar bertahan dan yang mampu membangun kekayaan jangka panjang.
Sementara itu, Anton Sukarna dari Bank Syariah Indonesia (BSI) menyoroti pentingnya edukasi keuangan syariah sebagai tameng dari investasi bodong. "Supaya anak-anak kita yang muda-muda ini tidak terjebak oleh investasi-investasi yang tidak jelas," ujarnya. Literasi yang jelas, lanjut Anton, adalah kunci agar masyarakat tidak mudah tergiur iming-iming keuntungan instan yang justru berujung kerugian.
Ancaman lain yang tak kalah serius datang dari dunia digital. Hari Mulyana, Vice President Bank Mandiri, memperingatkan soal maraknya phishing—penipuan yang mengelabui korban untuk membagikan data pribadi seperti kata sandi dan kode OTP melalui tautan palsu. "Jangan pernah memberikan OTP ke orang lain, termasuk ke pasangan kita sendiri," pesannya. Ia juga mengajak masyarakat selektif memilah tawaran di media sosial agar tidak menjadi korban kejahatan siber.
Di tengah hiruk-pikuk tips teknis, Anggito Abimanyu memberikan nasihat yang lebih filosofis. Ketua Dewan Komisioner LPS ini membagikan tiga resep menghadapi kerasnya hidup: tangguh menghadapi badai, belajar dari pengalaman, dan bekerja keras. "Kalau kamu ingin mencapai cita-cita yang tinggi, kamu harus punya ketangguhan menghadapi badai. Dunia itu akan keras," ujarnya. Ia mengakui bahwa kegagalan adalah guru terbaik, dan kerja keras sejak pagi hingga larut malam adalah bagian dari perjalanan menuju sukses.
Bagi masyarakat Indonesia, pesan dari festival ini terasa relevan di tengah meningkatnya jumlah investor ritel muda yang menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus bertumbuh. Namun, pertumbuhan ini tidak dibarengi dengan literasi yang memadai, sehingga rawan terjebak skema ponzi atau investasi ilegal. Edukasi berkelanjutan seperti Lampung Financial Festival menjadi penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi pada ketersediaan instrumen investasi, melainkan pada kemampuan generasi muda menyaring informasi dan membangun kebiasaan finansial yang sehat. Apakah festival-festival serupa akan mampu mengubah perilaku investasi anak muda secara signifikan, atau hanya menjadi seremonial tahunan? Jawabannya bergantung pada konsistensi para pemangku kepentingan dalam mendampingi mereka setelah acara usai.



