Getlink Peringatkan Gangguan Sistem Biometrik UE Bisa Hambat Lintas Terowongan Channel
Baca dalam 60 detik
- Operator Channel Tunnel, Getlink, mengkhawatirkan perangkat lunak UE yang belum stabil dapat menunda penerapan pemeriksaan biometrik bagi penumpang mobil, yang seharusnya mulai berlaku pada 6 September.
- Investasi Getlink sebesar €80 juta untuk sistem EES terancam tidak optimal jika masalah software tidak segera diatasi, berpotensi memicu antrean panjang di terminal.
- Getlink juga berselisih dengan pemerintah Inggris terkait kenaikan pajak bisnis tiga kali lipat, dan mengancam akan mengambil jalur hukum jika tidak ada perubahan kebijakan.

Operator Channel Tunnel, Getlink, mengeluarkan peringatan bahwa sistem verifikasi biometrik yang menjadi bagian dari skema keamanan perbatasan digital Uni Eropa (UE) berpotensi mengalami penundaan akibat ketidakstabilan perangkat lunak yang disediakan oleh Brussels. Langkah ini bisa mengganggu rencana penerapan penuh sistem tersebut pada 6 September mendatang, terutama bagi penumpang kendaraan pribadi yang melintasi terowongan bawah laut antara Inggris dan Prancis.
Yann Leriche, CEO Getlink, mengungkapkan bahwa komponen biometrik dari sistem Entry/Exit (EES) belum sepenuhnya diimplementasikan untuk kendaraan penumpang. "Saya tidak akan mengatakan bahwa kami tidak mengalami kesulitan sama sekali, karena ada satu masalah yang memengaruhi kita semua dan belum ada solusi langsung yang jelas: perangkat lunak yang disediakan oleh Uni Eropa," ujar Leriche dalam konferensi pers, Kamis (23/7). Sistem EES sendiri telah beroperasi penuh di kawasan Schengen sejak April lalu, namun kekhawatiran muncul dari maskapai penerbangan dan otoritas Inggris mengenai potensi kekacauan perjalanan saat puncak liburan.
Getlink, yang memegang konsesi operasi Channel Tunnel hingga 2086, telah menggelontorkan dana sebesar €80 juta (sekitar $91 juta) untuk mempersiapkan terminal-terminalnya menyambut EES. Namun, jika masalah perangkat lunak tidak segera diatasi, investasi besar itu bisa tidak memberikan hasil optimal. Leriche menambahkan bahwa antrean di terowongan saat ini umumnya terbatas pada satu hingga dua jam, jauh lebih pendek dibandingkan penundaan yang dilaporkan di sejumlah bandara. "Semua pemberitaan negatif—terutama dari pihak Inggris, karena 80 persen turis kami adalah warga Inggris—pada akhirnya menciptakan kesan buruk, padahal kenyataannya masalah tersebut sebagian besar bisa dikelola jika kami menjalankan tugas dengan baik," jelasnya.
Di luar masalah teknis, Getlink juga menghadapi sengketa dengan pemerintah Inggris terkait penilaian ulang tarif bisnis yang mengakibatkan kenaikan tagihan pajak tahunan hingga tiga kali lipat. Leriche menyatakan perusahaan akan memberikan waktu hingga akhir musim panas bagi pemerintahan baru Inggris untuk mempertimbangkan kembali posisinya sebelum meluncurkan tahap pertama tantangan hukum formal. Langkah ini menambah ketegangan antara operator infrastruktur dan otoritas Inggris di tengah upaya pemulihan pasca-Brexit.
Bagi pelancong asal Indonesia yang berencana melintasi Channel Tunnel, situasi ini patut dicermati. Meski tidak ada dampak langsung, potensi penundaan penerapan EES bisa memengaruhi kelancaran perjalanan ke Eropa, terutama jika sistem biometrik diterapkan secara bertahap. Pengalaman antrean panjang di bandara Eropa akibat EES bisa menjadi gambaran bagi wisatawan Indonesia yang kerap menggunakan rute ini sebagai pintu masuk ke Benua Biru. Otoritas Indonesia juga bisa memetik pelajaran tentang pentingnya pengujian perangkat lunak sebelum implementasi sistem perbatasan digital.
Getlink sendiri tetap optimistis dengan menaikkan proyeksi laba tahun penuh menjadi €835–870 juta, dari sebelumnya €820–860 juta, dengan asumsi gangguan minimal dari peluncuran EES. Namun, jika masalah perangkat lunak tidak kunjung rampung, bukan tidak mungkin target tersebut harus direvisi. Pertanyaan besarnya: akankah UE mampu menyelesaikan masalah software tepat waktu, atau justru memicu kekacauan di salah satu jalur transportasi tersibuk di Eropa?



