Commonwealth Games 2026 di Glasgow: Lebih Ringkas, Lebih Banyak Negara, Masa Depan Tak Pasti
Baca dalam 60 detik
- Glasgow menjadi tuan rumah Commonwealth Games 2026 setelah Victoria, Australia, mundur karena lonjakan biaya, mengusung format lebih kecil dengan sepuluh cabang olahraga dan 3.000 atlet.
- Ajang ini mencatat rekor jumlah peserta negara (74) dan program para sport terintegrasi terbesar, namun menghilangkan olahraga beregu seperti rugbi dan hoki.
- Masa depan Commonwealth Games bergantung pada model tuan rumah yang lebih fleksibel dan terjangkau, dengan atletik serta renang sebagai satu-satunya cabang wajib.

Glasgow, Skotlandia, akhirnya menjadi tuan rumah Commonwealth Games 2026 setelah Victoria, Australia, mundur pada Juli 2023 karena biaya yang membengkak. Ajang multicabang yang sempat diragukan kelangsungannya ini kini bergulir dalam format yang jauh lebih ringkas, namun diikuti rekor jumlah negara peserta.
Commonwealth Games 2026 hanya mempertandingkan sepuluh cabang olahraga, turun drastis dibandingkan Birmingham 2022 yang memiliki 20 cabang dan lebih dari 5.000 atlet. Jumlah atlet kali ini sekitar 3.000 orang, dengan enam dari sepuluh cabang menyertakan nomor para sport—terbanyak dalam sejarah penyelenggaraan. Untuk menekan biaya, seluruh pertandingan dipusatkan di empat arena dalam radius 12 kilometer di pusat Glasgow, dan atlet serta ofisial menginap di hotel, bukan di kampung atlet.
Keputusan menghilangkan olahraga beregu seperti rugbi, squash, dan hoki menuai kekecewaan dari federasi terkait yang menilai arena yang ada di Glasgow sebenarnya memadai. Namun, panitia pelaksana menegaskan bahwa atletik dan renang akan menjadi satu-satunya cabang wajib di edisi mendatang, memberi fleksibilitas bagi tuan rumah untuk memilih cabang lain sesuai kebutuhan.
Australia kembali menjadi tim yang difavoritkan setelah memuncaki klasemen medali Birmingham 2022 dengan 67 emas. Cabang renang tetap menjadi lumbung emas utama, dengan skuad Dolphins yang diperkuat Mollie O'Callaghan, Cam McEvoy, dan Kyle Chalmers, serta perenang para seperti Tim Hodge dan Lakeisha Patterson. Di atletik, juara Olimpiade lompat galah Nina Kennedy dan pelempar cakram Matt Denny menjadi andalan. Namun, perbandingan langsung dengan edisi sebelumnya sulit dilakukan karena jumlah nomor emas yang lebih sedikit.
Bagi Indonesia, meski tidak berpartisipasi dalam Commonwealth Games karena bukan anggota Persemakmuran, ajang ini tetap relevan sebagai indikator tren penyelenggaraan event olahraga global. Model Glasgow yang efisien dapat menjadi referensi bagi Indonesia jika suatu saat ingin menjadi tuan rumah event serupa, seperti Asian Games atau bahkan Olimpiade. Keputusan Victoria mundur karena biaya juga menjadi pengingat pentingnya perencanaan anggaran yang matang dan realistis.
Commonwealth Sport, badan pengelola ajang ini, meluncurkan inisiatif "Games Reset" untuk membuat edisi mendatang lebih fleksibel dan menarik bagi calon tuan rumah. Mereka berharap format kecil seperti Glasgow dapat memperluas pool kota yang bersedia menjadi tuan rumah. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: akankah publik masih antusias menyaksikan Commonwealth Games yang semakin diringkas? Di Australia, siaran Birmingham 2022 menjangkau 11,1 juta pemirsa televisi—jauh di bawah Olimpiade Tokyo dan Paris yang mencapai 20 juta. Di sisi lain, tiket renang dan velodrome Glasgow 2026 dilaporkan ludes terjual tiga bulan sebelum acara, menandakan animo lokal masih tinggi.
Masa depan Commonwealth Games akan ditentukan oleh kemampuan penyelenggara untuk menghadirkan cerita yang kuat, biaya yang terjangkau, serta dampak jangka panjang bagi komunitas tuan rumah. Tanpa itu, ajang yang lahir sebagai British Empire Games ini bisa kehilangan relevansinya di tengah persaingan dengan event olahraga global lainnya.



