Mike Flanagan Batal Sutradarai Film Horor Clayface, James Gunn Beri Restu
Baca dalam 60 detik
- DC Studios menginginkan Mike Flanagan menyutradarai film horor Clayface, tetapi ia menolak karena jadwal padat.
- James Watkins, sutradara Speak No Evil, akhirnya ditunjuk untuk menggarap proyek adaptasi karakter klasik DC tersebut.
- Flanagan tetap terlibat sebagai penulis skenario, dengan naskah yang mendapat pujian dari James Gunn.

DC Studios hampir saja merekrut Mike Flanagan, maestro horor di balik The Haunting of Hill House, untuk menyutradarai film solo Clayface. Namun, ambisi itu kandas karena jadwal sang sineas yang sudah penuh dengan proyek lain. Meski begitu, Flanagan tetap memberikan restu dan naskahnya tetap digunakan.
Kepala DC Studios James Gunn dan Peter Safran mengaku sangat menginginkan Flanagan duduk di kursi sutradara. Safran, yang pernah bekerja sama dengan Flanagan dalam waralaba The Conjuring, mengatakan kepada Entertainment Weekly, "Kami benar-benar menginginkannya menyutradarai—sungguh, sangat menginginkannya. Tapi Flanagan sudah sangat sibuk. Ia punya banyak proyek di piringnya. Jadi dia berkata, 'Dengar, aku tidak bisa menyutradarainya, tapi kalian punya restuku. Pergilah dengan Tuhan.'"
Flanagan saat ini tengah disibukkan oleh sederet proyek ambisius, termasuk serial TV Carrie untuk Amazon, film Exorcist baru yang dibintangi Scarlett Johansson, serta adaptasi layar lebar The Mist karya Stephen King. Dengan padatnya jadwal tersebut, ia memilih untuk melepas kendali kreatif atas Clayface kepada sutradara lain.
Alih-alih Flanagan, DC Studios menunjuk James Watkins, yang namanya melesat berkat film horor Speak No Evil (2024). Watkins juga dikenal lewat The Woman in Black (2012) dan debutnya Eden Lake (2008). Dalam pernyataannya, Watkins mengungkapkan ketertarikannya pada film yang memberikan pengalaman mendebarkan namun tetap memiliki hati. "Saya ingin membawa penonton dalam sebuah perjalanan, tapi bukan sekadar perjalanan mekanis. Saya ingin perjalanan itu memiliki jiwa. Saya pikir itulah yang dimiliki naskah ini," ujarnya.
Menariknya, James Gunn mengakui bahwa ia tidak pernah berniat membuat film Clayface sebelum Flanagan datang dengan idenya. Dalam wawancara dengan io9, Gunn berkata, "Saya tidak berencana membuat film Clayface. Mike datang. Dia menyodorkan ide yang luar biasa. Saya seperti, 'Astaga, aku tidak percaya kau berhasil membuatku ingin membuat film Clayface.'" Setelah membaca naskah pertama dan kedua yang dinilainya semakin baik, Gunn pun memberi lampu hijau. "Jika ada materi berkualitas, kami bisa mencari cara untuk mewujudkannya," tegasnya.
Watkins menambahkan bahwa naskah awal Flanagan sarat dengan elemen mitologis dalam dunia shape-shifting Clayface. "Ada pertanyaan tentang kemanusiaan kita—bagaimana kita kehilangan kemanusiaan dan apa artinya menjadi monster," jelas Watkins. Namun, setelah kolaborator Hossein Amini terlibat, konsep tersebut berubah drastis. Meski demikian, Watkins tidak merinci perubahan spesifik yang terjadi.
Bagi penggemar DC di Indonesia, film Clayface ini menjadi angin segar di tengah dominasi pahlawan super mainstream. Karakter yang selama ini hanya menjadi figuran di serial seperti Gotham dan Pennyworth kini mendapat sorotan utama. Dengan pendekatan horor yang diusung, film ini berpotensi menarik penonton yang bosan dengan formula superhero konvensional. Apakah Watkins mampu menghadirkan teror yang setara dengan visi awal Flanagan? Publik tentu menanti.



