Liam Gallagher Kabur dari Latihan Terakhir Oasis, Muncul 20 Menit Sebelum Konser
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Oasis itu mangkir dari gladi resik terakhir dan baru muncul sesaat sebelum naik panggung di Cardiff, Wales.
- Noel Gallagher mengaku sempat panik, tetapi adiknya tetap tampil prima seperti saat muda.
- Kisah ini terungkap dalam film dokumenter 'Oasis: Don't Look Back in Anger' yang merekam proses rekonsiliasi keduanya.

Liam Gallagher kembali menunjukkan sisi 'liar'-nya di momen paling krusial kebangkitan Oasis. Vokalis berusia 52 tahun itu memilih absen dari gladi resik terakhir sebelum konser pembuka tur reuni di Principality Stadium, Cardiff, Wales, 4 Juli 2024. Ia baru muncul 20 menit sebelum pertunjukan dimulai, memicu kekacauan di balik panggung yang terekam dalam film dokumenter terbaru bertajuk 'Oasis: Don't Look Back in Anger'.
Dalam film yang disutradarai dengan kamera jarak jauh agar tidak mengganggu proses latihan, terlihat bagaimana ketegangan antara kakak-beradik Gallagher masih membara di tahap awal reuni. Noel Gallagher, gitaris utama dan penulis lagu, mengungkapkan kekesalannya saat sesi latihan terakhir berlangsung tanpa kehadiran sang adik. "Kami punya kesempatan untuk mengubah narasi band ini, memperbaiki semua yang selama ini berantakan," ujarnya dalam cuplikan yang dilaporkan Daily Mirror.
Noel menceritakan momen mencekam tersebut dengan nada getir. "Latihan terakhir, malam sebelum acara. Dia tidak muncul. Lalu tiba-tiba ini jadi salah satu momen terbesar dalam hidup kami, dan dia belum latihan sama sekali," katanya. "Dia datang 20 menit sebelum manggung, bertanya 'bagaimana kateringnya?'. Aku hanya bisa berpikir, ini gila. Lalu dia meraih tanganku, dan aku masih bingung. Tapi begitu tampil, suaranya seperti masih berusia 30 tahun. Dia hanya datang dan langsung melakukannya. Aku bilang, 'kamu benar-benar gila'."
Insiden itu bukan satu-satunya momen menegangkan. Dalam rekaman latihan, Liam sempat berjalan keluar di tengah lagu 'Champagne Supernova' tanpa pamit. Gitaris Paul 'Bonehead' Arthurs hanya bisa berkomentar sinis, "Sampai jumpa!" kepada Noel. Ia juga menyampaikan bahwa Liam tidak akan hadir keesokan harinya, melainkan baru bergabung pada Senin atau Selasa. Noel merespons dengan sarkasme, "Hebat. Luar biasa. Akhir pekan panjang. Aku juga sudah capek."
Meski bingung dengan perilaku adiknya, Bonehead mengaku mulai memahami cara kerja Liam. "Aku tidak yakin apakah dia menikmati dirinya sendiri. Aku tidak bisa memahaminya. Dia datang dan pergi begitu saja. Tapi aku punya rasa hormat baru untuk itu. Aku menghormatinya," ujarnya. Sikap ini mencerminkan dinamika unik yang selama ini mewarnai hubungan kedua bersaudara tersebut.
Namun, seiring berjalannya tur, ketegangan itu perlahan mencair. Film ini memperlihatkan bagaimana keduanya mulai memperbaiki hubungan, yang sempat retak sejak perpecahan band pada 2009. Liam sendiri menegaskan bahwa musiklah yang menyatukan mereka kembali. "Musik membawa kami kembali bersama. Oasis, kawan. Oasis menyelamatkan," katanya dalam film tersebut.
Bagi penggemar Oasis di Indonesia, kisah ini menambah daya tarik tersendiri. Tur reuni yang telah memecahkan rekor penjualan tiket di berbagai negara ini menjadi bukti bahwa nostalgia dan kualitas musik masih mampu menggerakkan industri hiburan global. Meski belum ada kepastian apakah Oasis akan menggelar konser di Asia Tenggara, antusiasme penggemar tanah air tetap tinggi, terutama setelah sukses tur dunia yang dijadwalkan berlanjut hingga 2025.
Fenomena ini juga menjadi pelajaran bagi industri musik Indonesia: bahwa rekonsiliasi antar personel band legendaris bisa menjadi magnet besar bagi penonton. Pertanyaannya, akankah ada band Indonesia yang berani mengambil langkah serupa? Atau justru kisah Gallagher bersaudara ini menjadi pengingat bahwa di balik panggung megah, selalu ada drama manusiawi yang tak pernah berakhir?



