Skandal Komedi 2012: Courtney Stodden Buka Suara soal Manipulasi di Usia 17 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Courtney Stodden mengaku menjadi korban manipulasi dalam sketsa Funny or Die yang syutingnya dilakukan saat ia masih di bawah umur.
- Sketsa yang dibuat ulang dari adegan film Pretty Woman itu melibatkan aktor Jason Alexander dan mantan suami Stodden yang jauh lebih tua.
- Stodden mendesak adanya aksi nyata untuk melindungi anak di industri hiburan, bukan sekadar permintaan maaf publik.

Courtney Stodden, kini berusia 31 tahun, kembali mengungkap trauma masa lalunya terkait sketsa komedi kontroversial yang ia bintangi pada 2012 di platform Funny or Die. Dalam wawancara terbaru dengan Variety, ia mengaku merasa sangat dimanipulasi saat syuting, terutama setelah menyadari bahwa adegan yang ia perankan terinspirasi langsung dari film Pretty Woman (1990).
Sketsa tersebut menampilkan Stodden yang saat itu masih berusia 17 tahun bersama aktor Jason Alexander, yang dikenal lewat serial Seinfeld, dan mantan suaminya Doug Hutchison. Hutchison saat itu berusia 51 tahun, sementara Stodden baru berusia 16 tahun saat mereka menikah pada 2011. Pernikahan ini sempat menjadi sorotan media karena perbedaan usia yang mencolok.
Stodden mengaku syok saat menonton Pretty Woman dan menyadari kemiripan adegan yang ia jalani. "Saya merasa sangat dekat dengan rumah, seolah-olah ia mengambil dari Pretty Woman dan berpikir akan lucu untuk membuat ulang itu dengan seorang anak," ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa ia tidak tahu sebelumnya jika Alexander akan melakukan kontak fisik yang tidak pantas di lokasi syuting.
Dalam pernyataan di Instagram, Stodden menekankan bahwa ia tidak memiliki kuasa hukum atas partisipasinya. "Kontrak ditandatangani oleh orang dewasa. Gaji masuk ke Doug," tulisnya. Ia juga menyoroti bahwa tubuhnya dijadikan bahan lelucon orang dewasa, sementara banyak pihak masih menyalahkannya dengan dalih 'ia memilih sendiri'.
Jason Alexander, dalam tanggapannya, mengakui bahwa sketsa itu tidak pantas dan menyatakan penyesalan mendalam. Namun, Stodden menilai permintaan maaf publik saja tidak cukup. Ia mendesak Alexander untuk mendukung organisasi Unchained at Last yang memperjuangkan penghapusan pernikahan anak, serta mendorong pengesahan AB 1267 di California. "Jika ia benar-benar menyesal, dukunglah perjuangan mengakhiri pernikahan anak. Itulah cara mengubah akuntabilitas menjadi perubahan nyata," tegas Stodden.
Kasus ini kembali memicu diskusi tentang perlindungan anak di industri hiburan, terutama di era media sosial dan platform konten. Di Indonesia, meskipun regulasi ketenagakerjaan anak sudah ada, kasus eksploitasi anak di dunia hiburan masih kerap terungkap. Pengalaman Stodden menjadi pengingat bahwa pengawasan ketat dan sanksi tegas diperlukan untuk mencegah manipulasi serupa. Pertanyaan yang mengemuka: akankah permintaan maaf para pelaku cukup, atau perlu ada perubahan sistemik yang lebih fundamental?



