Ridgeley Akhirnya Bisa Bernapas: ‘Sangat Lega’ Saat Wham! Bubar
Baca dalam 60 detik
- Andrew Ridgeley menyebut kepergiannya dari Wham! pada 1986 sebagai pelarian dari sorotan media yang membuatnya kewalahan.
- Berbeda dengan George Michael yang menjaga hubungan dengan pers, Ridgeley memilih jalan konfrontatif hingga akhirnya memudar dari panggung publik.
- Dalam film dokumenter terbaru, ia justru merindukan momen-momen sederhana bersama sahabatnya, George Michael, bukan ketenaran.

Lebih dari tiga dekade setelah Wham! memutuskan bubar, Andrew Ridgeley akhirnya buka suara tentang perasaannya yang sesungguhnya. Bukan duka atau penyesalan, melainkan rasa lega yang menggunung. Ia mengaku bahwa saat grup musik legendaris itu berakhir pada 1986, ia justru ”sangat senang bisa pergi” dari pusaran popularitas.
Dalam wawancara dengan Sunday Times Culture, pria berusia 63 tahun itu mengatakan bahwa dirinya memiliki hubungan yang sangat tidak harmonis dengan pers kala itu. “Saya melakukan hal-hal yang tidak bijaksana dan tertangkap kamera saat melakukannya—bukan sampai berurusan dengan polisi, tapi kenakalan di level yang tidak patut. Seks, rock ’n’ roll, tapi saat itu belum ada narkoba. Namun saya selalu merasa kehidupan pribadi adalah urusan saya; ketenaran sangat tidak saya kehendaki,” ungkapnya.
Ridgeley menekankan bahwa berakhirnya Wham! memberinya kelegaan luar biasa karena sorotan harian terhadap dirinya lenyap. “Saya sangat lega ketika itu bukan lagi hal yang setiap hari. Tapi saya memang tidak membantu diri saya sendiri,” katanya, mengakui ulahnya sendiri yang justru memperkeruh hubungan dengan media.
Sikap Ridgeley kontras dengan rekan duetnya, George Michael, yang memilih lebih hati-hati dalam berinteraksi dengan pers. Menurut Ridgeley, Michael sadar bahwa ia membutuhkan media untuk menopang karier, meski secara pribadi ia juga enggan membuka kehidupan pribadi. “George memahami bahwa tidak bijaksana memiliki hubungan yang sama dengan pers seperti saya. Tapi saya tidak peduli sama sekali. Saya tidak butuh ketenaran,” ujarnya.
Film dokumenter Wham! 10 Days in China menjadi jembatan nostalgia bagi Ridgeley. Dalam film yang mengabadikan tur bersejarah Wham! ke China itu, ia justru paling merindukan momen-momen kecil bersama George. Salah satu adegan yang menyentuh adalah ketika mereka bertengkar soal pidato di jamuan kehormatan. “George memberikan pidato yang bagus dan terukur, sementara pidato saya sombong. Saya ingat dia berdiri di belakang saya dan terkikik karena tidak percaya betapa bodohnya saya mempermalukan diri sendiri. Hal-hal itulah yang saya rindukan,” kenangnya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kisah Wham! bukanlah cerita asing. Era 1980-an menjadi saksi bagaimana lagu-lagu seperti “Wake Me Up Before You Go-Go” dan “Careless Whisper” memenuhi gelombang radio dan kaset. Fenomena ini membuktikan bahwa daya tarik Wham! melampaui batas geografis. Namun, di balik gemerlap panggung, Ridgeley justru menolak label selebriti yang melekat padanya. Ia memilih hidup tenang di Cornwall, jauh dari hiruk-pikuk London.
Pertanyaan yang mengemuka kemudian: apakah ketenaran selalu menjadi beban bagi mereka yang mengalaminya? Ridgeley membuktikan bahwa di balik sorotan lampu panggung, ada jiwa yang hanya mendambakan kebersamaan sederhana dengan sahabat—bukan tepuk tangan atau lensa kamera.



