Serangan 90 Detik di Pos Pemeriksaan Narathiwat: 5 Ranger Tewas, 6 Warga Luka
Baca dalam 60 detik
- Rekaman CCTV mengungkap sembilan pelaku dalam dua tim menyerbu pos pemeriksaan di Thailand selatan, menewaskan lima personel paramiliter dan melukai enam warga sipil.
- Serangan berlangsung hanya 90 detik; pelaku menggunakan mobil pikap dan sepeda motor, menyamar dengan seragam mirip paramiliter dan hijab.
- Pihak berwenang Thailand meningkatkan kewaspadaan dan mengirim jenderal tinggi ke lokasi, sementara penyelidikan masih berlangsung untuk memburu pelaku.

Rekaman kamera pengawas (CCTV) mengungkap bagaimana sembilan orang bersenjata melancarkan serangan kilat selama 90 detik di Pos Pemeriksaan Bukeh Sami, Narathiwat, Thailand selatan, pada Rabu (22/7) petang. Aksi brutal itu menewaskan lima personel paramiliter Ranger dan melukai enam warga sipil, termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun.
Insiden terjadi sekitar pukul 18.45 waktu setempat di pos yang dijaga oleh Kompi Ranger 4509, di bawah Resimen Ranger ke-45. Awalnya penyidik menduga hanya enam pelaku, tetapi rekaman dari kamera di luar dan seberang pos menunjukkan kelompok itu terdiri dari sembilan orang yang terbagi dalam dua tim. Tim pertama berjumlah tujuh orang menumpang pikap hitam Nissan berpelat Songkhla, sementara tim kedua mengendarai sepeda motor Honda Wave merah-putih tanpa pelat jelas.
Para pelaku tim pertama mengenakan pakaian hitam menyerupai seragam paramiliter dan topi bertepi lebar yang menutupi sebagian wajah. Pengendara sepeda motor berbaju putih dan helm, diduga membawa pistol 11 mm, sementara boncengannya memakai hijab hitam sebagai penyamaran dan membawa senapan tipe AK. Sepeda motor itu tampak bertugas sebagai pengawal belakang pikap saat mendekati pos dari arah Pasar Tanyong Mat.
Saat pikap melambat di depan pos, tiga Ranger yang sedang berjaga di pinggir jalan langsung menjadi sasaran tembakan dari M16 dan senapan tipe AK yang ditembakkan dari bak pikap. Setelah tiga personel pertama tumbang, kendaraan berhenti dan beberapa pelaku turun untuk melanjutkan tembakan ke arah bunker tempat dua Ranger lainnya berada. Mereka kemudian memeriksa pos dan merampas senjata serta perlengkapan sebelum kembali ke pikap. Saat melarikan diri, salah satu pelaku melemparkan bom pipa ke arah bangunan tinggi dekat jembatan di samping pos.
Semua lima Ranger tewas di tempat. Mereka diidentifikasi sebagai Sersan Mayor Kelas Satu Theerayut Somakerd, serta sukarelawan Ranger Sakiriya Jena, Wimon Dabthong, Nattasit Kaewsena, dan Salahuding Pi. Enam warga sipil luka-luka, termasuk seorang bocah 10 tahun, dan telah dilarikan ke rumah sakit setempat. Angka korban sipil sempat dilaporkan bervariasi antara dua hingga lima orang, sebelum akhirnya dipastikan enam.
Gubernur Narathiwat Boonchuay Homyamyen bersama petinggi polisi dan militer memimpin pemeriksaan lokasi semalaman. Tim penjinak bom, polisi taktis, dan forensik bekerja hingga pagi mengumpulkan bukti. Lebih dari 100 selongsong peluru berserakan di jalan, termasuk kaliber M16, AK, dan pistol 11 mm. Bunker pos dipenuhi lubang peluru, dan sisa bom pipa ditemukan di dekat jembatan. Pikap yang diduga digunakan pelaku kemudian ditemukan terbakar, diduga untuk menghilangkan bukti.
Pihak keamanan segera mendirikan pos pemeriksaan dan penghadang jalan di se sepanjang jalur pelarian. Seluruh unit di wilayah tersebut diperintahkan memperketat pengamanan, meningkatkan patroli, dan waspada terhadap kemungkinan kekerasan lanjutan. Kepala Staf Angkatan Darat Thailand sekaligus Sekretaris Jenderal Komando Operasi Keamanan Dalam Negeri, Jenderal Chaiyapruek Duangprapat, diperintahkan segera menuju Narathiwat pada Kamis (23/7) untuk menilai situasi dan mengoordinasikan respons antara militer, polisi, dan instansi administratif.
Bagi Indonesia, serangan ini mengingatkan kembali pada dinamika keamanan di kawasan perbatasan Thailand selatan yang kerap melibatkan kelompok separatis. Meskipun jarak geografis cukup jauh, stabilitas di wilayah tersebut dapat berdampak pada arus perdagangan dan investasi di kawasan ASEAN, khususnya di segitiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand. Peningkatan aktivitas militer Thailand juga berpotensi memengaruhi kerja sama keamanan regional.
Hingga berita ini diturunkan, pelaku masih dalam pengejaran. Investigasi terus berjalan dengan menelusuri rekaman CCTV, melacak kendaraan yang digunakan, dan memeriksa bukti forensik. Pertanyaan yang mengemuka: apakah serangan ini bagian dari gelombang baru kekerasan separatis di Thailand selatan, atau aksi terisolasi yang memanfaatkan celah keamanan? Jawabannya akan menentukan langkah Bangkok ke depan dalam menjaga stabilitas di wilayah rawan konflik tersebut.



