WAIC 2026: Panas, Kerumunan, dan Ambisi AI China yang Menggelegar
Baca dalam 60 detik
- Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (WAIC) 2026 di Shanghai mencatat rekor jumlah pengunjung dan antusiasme, dengan tiket resmi seharga 168 yuan dijual kembali hingga 1.000 yuan.
- Presiden Xi Jinping memberikan pidato utama pertamanya di WAIC, menekankan pentingnya keterbukaan dan kolaborasi dalam pengembangan AI, yang mendorong inisiatif global seperti strategi 'LLM Going Global' dari Hong Kong.
- Fokus utama tahun ini bergeser dari model bahasa besar ke agen AI perusahaan dan infrastruktur komputasi supernode, dengan Huawei memamerkan Atlas 950 SuperPod yang berisi 1.024 prosesor Ascend.

Puluhan ribu pengunjung rela berjalan kaki di bawah terik matahari 40 derajat Celcius setelah kemacetan parah melumpuhkan akses menuju Shanghai Expo Centre pada hari pertama World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026. Tiket resmi seharga 168 yuan (sekitar Rp370.000) ludes terjual di pasar gelap dengan harga hingga 1.000 yuan, menandakan betapa tingginya minat publik terhadap ajang kecerdasan buatan terbesar di China ini.
WAIC tahun ini bukan sekadar pameran teknologi biasa. Untuk pertama kalinya, Presiden Xi Jinping hadir dan menyampaikan pidato kunci, menyerukan agar China memanfaatkan "peluang historis yang langka" dari pertumbuhan berbasis AI dengan mendorong sumber terbuka, keterbukaan, kolaborasi, dan berbagi. Kehadiran orang nomor satu di China itu langsung mengubah atmosfer konferensi, dari ajang industri menjadi pernyataan politik dan ekonomi yang kuat.
Menurut penyelenggara, lebih dari 400.000 orang memadati area seluas 10 hektar yang menampung 4.486 pameran dan 1.117 peserta pameran โ meningkat sepertiga dibandingkan tahun lalu. Bahkan hujan deras pada hari ketiga tidak menyurutkan antusiasme pengunjung. Mereka hanya menutup payung, mengibaskan air, dan terus berdesakan masuk ke dalam aula.
Di dalam area pameran, Hall H2 menjadi pusat perhatian dengan julukan "supernode hall". Di sinilah para pembuat chip AI domestik, mulai dari raksasa Huawei hingga pemain kecil seperti Moore Threads dan Enflame, memamerkan solusi arsitektur supernode โ kerangka kerja yang menghubungkan ratusan hingga ribuan chip AI melalui jaringan berkecepatan ultra-tinggi. Huawei mendominasi dengan Atlas 950 SuperPod, kabinet komputasi yang berisi 1.024 prosesor Ascend, memaksa pengunjung berjinjit untuk mengabadikan seluruh pameran dalam satu bingkai foto.
Namun, kerumunan terpadat justru berada di lantai dua, di bagian robotika. Dua robot Unitree yang menari di stan perusahaan pada Minggu sore langsung mengubah lorong sekitarnya menjadi lautan ponsel yang mengabadikan momen. "Karena robotika terlihat dan mudah berinteraksi, bagian ini menjadi tempat teratas bagi banyak pengunjung," ujar seorang peserta pameran. Fenomena ini menunjukkan bahwa publik tidak hanya tertarik pada AI abstrak, tetapi juga pada wujud fisik yang bisa disentuh.
Pergeseran signifikan juga terlihat dari strategi perusahaan teknologi besar seperti Alibaba dan Tencent. Mereka tidak lagi bersaing untuk model bahasa terpintar, melainkan berlomba menciptakan agen AI perusahaan yang dapat membangun pekerja digital untuk bisnis. "AI sekarang tentang melakukan pekerjaan nyata, bukan sekadar mengobrol," demikian pesan yang tergambar dari stan-stan mereka. Bahkan perusahaan non-teknologi seperti Luckin Coffee ikut serta, mengiklankan peran AI dalam manajemen rantai pasok dan operasi toko. Gelas kopi mereka ada di mana-mana, dengan antrean panjang di dua lokasi pop-up.
Bagi Indonesia, geliat WAIC ini menjadi sinyal penting. China semakin serius mengembangkan AI tidak hanya untuk pasar domestik, tetapi juga untuk ekspor โ seperti yang ditunjukkan oleh Hong Kong Generative AI Research and Development Centre yang meluncurkan "LLM Going Global Strategy". Strategi ini memanfaatkan peran Hong Kong sebagai "superkonektor" untuk menyebarkan teknologi AI daratan China ke seluruh dunia. Indonesia, sebagai salah satu mitra dagang utama China di Asia Tenggara, berpotensi menjadi pasar sasaran bagi solusi AI buatan China, baik dalam bentuk chip, platform, maupun agen perusahaan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah industri, tetapi seberapa cepat dan sejauh mana dominasi China akan merambah ke negara-negara berkembang. Dengan investasi masif, dukungan politik penuh, dan antusiasme publik yang meluap, WAIC 2026 telah menegaskan bahwa China tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi berniat memimpin perlombaan AI global. Bagi Indonesia, langkah selanjutnya adalah menentukan sikap: menjadi pengadopsi pasif atau mitra aktif dalam ekosistem AI yang sedang dibangun.



