Daycare Gratis untuk Keluarga Prasejahtera: TAS Arutala, Solusi Baru Ibu Pekerja di Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta meresmikan Taman Anak Sejahtera (TAS) Arutala, daycare gratis bagi anak usia 2โ6 tahun dari keluarga prasejahtera yang orang tuanya bekerja.
- Fasilitas ini menampung 25 anak dengan layanan pendidikan, pengasuhan, dan tiga kali makan gratis, serta telah mengubah perilaku anak seperti berkurangnya ketergantungan pada gawai.
- TAS Arutala menjadi model intervensi sosial yang diharapkan dapat diperluas, mengingat masih ada dua lokasi serupa di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, sebuah daycare gratis bernama Taman Anak Sejahtera (TAS) Arutala di Kebon Bawang, Jakarta Utara, menjadi penopang bagi puluhan ibu pekerja prasejahtera yang selama ini kebingungan menitipkan anak saat bekerja.
Fasilitas yang diresmikan Gubernur Pramono Anung pada 5 Mei 2025 ini merupakan unit pelaksana teknis Dinas Sosial DKI Jakarta. TAS Arutala menyediakan layanan perawatan, pengasuhan, dan perlindungan bagi anak usia 2โ6 tahun dari keluarga dengan penghasilan di bawah upah minimum provinsi (UMP) dan tidak menerima bantuan sosial serupa seperti KJP.
Kepala Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa, Rida Mufrida, menjelaskan bahwa daycare ini hadir untuk menjawab kebutuhan orang tua yang harus bekerja dari pagi hingga sore. โOrang tua yang prasejahtera, bekerja, dan masuk Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional bisa menitipkan anaknya secara gratis,โ ujarnya.
Setiap hari, anak-anak di TAS Arutala mengikuti jadwal terstruktur: senam dan permainan edukatif pada Senin, calistung pada Selasa, mengaji pada Rabu, olahraga pada Kamis, dan menari pada Jumat. Mereka juga mendapat sarapan, makan siang, dan makan sore, serta kudapan di sela kegiatan. Setelah mandi sore, anak-anak pulang dalam keadaan bersih dan siap dijemput orang tua.
Salah satu orang tua, Retno (41), merasakan dampak besar keberadaan TAS Arutala. Sebagai pekerja serabutan, ia dulu harus membawa putrinya, Safeeya (6), saat bekerja atau membiarkannya sendirian di rumah. โKalau nggak ada TAS, dia di rumah dan HP melulu. Di sini nggak main HP, malah ada belajarnya,โ katanya. Retno mengaku kini lebih tenang mencari nafkah karena Safeeya mendapatkan pendidikan dan interaksi sosial yang positif.
Rida menambahkan bahwa TAS Arutala tidak hanya menitipkan anak, tetapi juga mendidik. Anak-anak diajarkan doa harian, sopan santun, dan kebiasaan makan bersama. โAnak yang tadinya susah makan jadi lahap karena makan bersama,โ ujarnya. Perubahan perilaku ini juga dirasakan Retno: Safeeya kini lebih sering bermain boneka dan masak-masakan daripada bermain gawai.
Meski kapasitas terbatas, TAS Arutala menerapkan sistem daftar tunggu. Jika ada anak yang keluar karena kondisi ekonomi orang tua membaik, anak dari waiting list akan diprioritaskan. Rida berharap warga yang memenuhi syarat tidak ragu mendaftar. โAlumni sebelumnya sudah merasakan perbedaan pada anak-anak mereka,โ pungkasnya.
Keberhasilan TAS Arutala membuka pertanyaan: apakah model daycare gratis ini bisa direplikasi di wilayah lain Jakarta dan Indonesia untuk menekan angka stunting serta meningkatkan kesejahteraan keluarga prasejahtera?



