Rupiah Terpeleset ke Rp17.910, Konflik Global dan Suku Bunga BI Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,20% ke Rp17.910 per dolar AS setelah BI mempertahankan suku bunga di 5,75%.
- Ketegangan AS-Iran dan serangan Houthi di Laut Merah mengancam jalur minyak, mendorong permintaan dolar sebagai aset aman.
- BI mengandalkan insentif untuk menarik modal asing, namun tekanan eksternal masih membatasi ruang penguatan rupiah.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Kamis (23/7/2026), merosot 0,20% ke posisi Rp17.910 per dolar Amerika Serikat, sehari setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,75%. Pelemahan ini memutus tren positif sehari sebelumnya saat rupiah ditutup menguat tipis 0,06% ke Rp17.870.
Keputusan BI mempertahankan BI Rate di tengah tekanan global dinilai sebagai langkah hati-hati. Sejak Mei 2026, bank sentral telah mengakumulasi kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin untuk menopang stabilitas rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pergerakan rupiah masih relatif stabil dibandingkan akhir Juni di Rp17.880, namun pelaku pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin.
Dari sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) justru melemah tipis 0,07% ke 101,058 pada pagi ini. Namun, penguatan rupiah tertahan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ke-12 berturut-turut, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Aksi ini disebut sebagai bagian dari blokade laut terhadap Arab Saudi.
Ancaman terhadap dua jalur utama perdagangan minyak dunia—Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb—kini menjadi nyata. Houthi menguasai wilayah sekitar Bab el-Mandeb, sementara Iran hampir sepenuhnya memblokade Selat Hormuz. Akibatnya, lima kapal tanker telah menghindari Bab el-Mandeb pada Rabu, dan tiga tanker pengangkut minyak Arab Saudi tujuan China dan India berbalik arah di Laut Merah sehari sebelumnya.
Bagi Indonesia, gangguan pasokan minyak global berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan inflasi impor. Meski BI mengandalkan insentif untuk menarik arus modal asing—seperti relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM) dan instrumen valas—tekanan eksternal masih membatasi ruang penguatan rupiah. Pelaku pasar kini mencermati apakah konflik akan meluas dan berdampak pada rantai pasok komoditas lain.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan respons kebijakan moneter global. Jika ketegangan AS-Iran mereda, dolar bisa kehilangan daya tariknya sebagai safe haven, memberi ruang bagi rupiah untuk menguat. Namun, jika konflik berlarut, tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi domestik diprediksi akan berlanjut. Akankah BI kembali menaikkan suku bunga atau tetap mengandalkan instrumen makroprudensial?



