Kamboja Gulung 200 Lebih Sarang Penipuan Digital, Tapi Poipet Belum Sepenuhnya Bersih
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 200 lokasi penipuan daring dibongkar di Banteay Meanchey, Kamboja, dalam tujuh bulan terakhir, dengan puluhan ribu warga asing diamankan.
- Gubernur Oum Reatrey mengakui Poipet dan Ou Chrov masih menyisakan kantong-kantong kejahatan siber, sementara Malai dan Svay Chek dinyatakan bersih.
- Lebih dari 45.000 warga asing dideportasi dari Kamboja pada semester pertama 2026, melampaui total deportasi satu dekade sebelumnya.

Otoritas Provinsi Banteay Meanchey, Kamboja, berhasil membongkar lebih dari 200 pusat operasi penipuan daring dan menahan puluhan ribu tersangka asing dalam tujuh bulan terakhir. Namun, Gubernur Oum Reatrey mengakui bahwa kawasan perbatasan Poipet belum sepenuhnya bebas dari praktik ilegal tersebut.
Penggerebekan yang dilakukan oleh pasukan gabungan kepolisian dan komando terpadu provinsi ini merupakan bagian dari kampanye intensif pemberantasan kejahatan berbasis teknologi. Menurut Reatrey, jumlah tersangka asing yang ditemukan di setiap lokasi bervariasi, mulai dari beberapa ratus hingga mencapai 2.000 orang di kompleks-kompleks besar.
"Hingga saat ini, kami telah menindak lebih dari 200 lokasi di seluruh Banteay Meanchey dan menemukan puluhan ribu warga negara asing," ujar Reatrey. Sebagian dari mereka telah dideportasi melalui Pos Pemeriksaan Perbatasan Internasional Poipet, sementara lainnya masih ditahan di penjara menunggu proses hukum.
Direktorat Jenderal Imigrasi Kamboja mencatat bahwa lebih dari 45.000 warga asing telah dideportasi pada paruh pertama 2026, termasuk lebih dari 16.000 orang yang ditahan di lokasi penipuan. Angka ini melampaui total deportasi warga asing selama satu dekade sebelumnya, seperti diungkapkan oleh Dirjen Sok Veasna.
Empat wilayah yang menjadi tantangan terbesar selama kampanye adalah Poipet, Malai, Svay Chek, dan Ou Chrov. Reatrey menegaskan bahwa Malai dan Svay Chek kini telah berhasil dibersihkan. "Saya belum bisa mengatakan Ou Chrov 100 persen bersih, tetapi operasi besar tampaknya telah dihilangkan. Poipet belum sepenuhnya bersih," tambahnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat banyak warga negara Indonesia yang menjadi korban atau bahkan terlibat dalam jaringan penipuan daring di Kamboja. Data deportasi menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan pemulangan tersangka. Kasus serupa juga pernah mencuat di Myanmar dan Laos, menunjukkan bahwa sindikat kejahatan siber transnasional masih aktif di kawasan Asia Tenggara.
Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja, Touch Sokhak, melaporkan bahwa dalam operasi awal Juli, 636 orang dari 21 negara ditangkap. Sembilan tersangka dari tiga negara telah diserahkan ke pengadilan, sementara 627 lainnya masih dalam penyelidikan. Kampanye ini menargetkan provinsi-provinsi seperti Phnom Penh, Kandal, Preah Sihanouk, Koh Kong, dan Kampong Cham.
Keberhasilan Kamboja membongkar pusat penipuan ini patut diapresiasi, namun pengakuan gubernur bahwa Poipet masih menyisakan masalah mengindikasikan bahwa perang melawan kejahatan siber belum usai. Pertanyaannya, apakah negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, siap memperkuat kerja sama lintas batas untuk memutus rantai sindikat ini sebelum korban baru berjatuhan?



