Data 9.000 Pelanggan Origin Energy Bocor, Perusahaan Listrik Australia Terkendala
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan energi Australia Origin Energy mengonfirmasi kebocoran data pribadi dan finansial pelanggan akibat insiden keamanan siber.
- Data yang terekspos mencakup nama, alamat, nomor kontak, informasi akun, serta sebagian digit kartu kredit atau rekening bank.
- Origin Energy masih menghitung jumlah korban dan telah menyediakan saluran bantuan khusus, sementara regulator Australia mulai melakukan pengawasan.

Origin Energy, salah satu pemasok listrik dan gas terbesar di Australia, mengonfirmasi bahwa data pribadi dan finansial sejumlah pelanggannya telah bocor akibat insiden keamanan siber yang terdeteksi pada pekan ini. Pengakuan tersebut muncul sehari setelah perusahaan menyatakan tengah menyelidiki potensi pelanggaran keamanan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (23/7), Origin menyebut data yang terekspos mencakup nama lengkap, alamat tempat tinggal, nomor telepon, informasi akun, serta data finansial berupa empat digit terakhir nomor kartu kredit atau nomor rekening bank. Sebelumnya, Origin memperkirakan data yang terdampak tidak akan mencakup detail kartu kredit atau rekening bank, namun investigasi lanjutan menunjukkan sebaliknya.
CEO Origin Energy, Frank Calabria, menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan saat ini adalah mengamankan sistem dan memastikan tidak ada akses tidak sah lebih lanjut. "Kami telah mengambil langkah cepat untuk mengunci sistem dan bekerja sama dengan otoritas keamanan siber," ujarnya. Origin juga telah menyiapkan nomor kontak khusus dan sumber daya tambahan untuk membantu pelanggan yang terdampak.
Hingga berita ini diturunkan, Origin masih menghitung total jumlah pelanggan yang datanya bocor. Namun, analis keamanan siber memperkirakan angka tersebut bisa mencapai ribuan, mengingat skala operasi Origin yang melayani lebih dari 4 juta pelanggan di Australia. Insiden ini menjadi pengingat bahwa sektor energi, yang selama ini dianggap kritis, juga rentan terhadap serangan siber.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pelajaran berharga. Meskipun sektor energi di Indonesia belum mengalami kebocoran data berskala besar seperti ini, ancaman siber terhadap infrastruktur kritis terus meningkat. Perusahaan listrik negara, PLN, misalnya, telah beberapa kali menjadi sasaran serangan siber meski belum ada laporan kebocoran data pelanggan. Regulator di Indonesia, seperti Kominfo dan BSSN, perlu memperkuat pengawasan terhadap keamanan data di sektor energi, terutama dengan semakin digitalnya layanan pelanggan.
Kasus Origin juga menunjukkan pentingnya transparansi dalam penanganan insiden. Awalnya Origin meremehkan potensi kebocoran data finansial, namun kemudian harus mengakui kesalahan. Hal ini dapat merusak kepercayaan pelanggan dan berpotensi menimbulkan tuntutan hukum. Di Australia, pelanggaran data semacam ini dapat dikenakan denda besar berdasarkan Undang-Undang Privasi yang diperbarui pada 2022.
Ke depan, Origin harus bekerja keras memulihkan kepercayaan pelanggan dan memastikan sistem keamanannya diperkuat. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah data yang bocor sudah disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab? Origin belum memberikan pernyataan mengenai hal ini. Sementara itu, regulator Australia, Office of the Australian Information Commissioner (OAIC), telah memulai penyelidikan.



