IHSG Tembus 6.400: Sinyal Bullish Baru atau Jebakan Profit Taking?
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 6.400 pada perdagangan Kamis pagi, didorong oleh reli saham komoditas dan teknologi.
- Kapitalisasi pasar bursa melonjak Rp112 triliun menjadi Rp11.208 triliun, menandakan optimisme investor domestik meskipun asing masih mencatat jual bersih.
- Secara teknikal, level 6.400 kini menjadi support kunci; jika bertahan, IHSG berpotensi menguji 6.450-6.500, namun risiko profit taking tetap mengintai.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menembus level psikologis 6.400 pada perdagangan Kamis (23/7/2026), menandai momentum baru bagi pasar modal Indonesia setelah sempat kesulitan menembus area tersebut dalam beberapa sesi terakhir. Penguatan ini terjadi di tengah optimisme investor domestik yang mampu mengimbangi tekanan jual asing.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.54 WIB, IHSG tercatat menguat 75,28 poin atau 1,19% ke posisi 6.409,76. Sepanjang sesi pagi, indeks bergerak dalam rentang 6.338,24 hingga 6.412,62, dengan level tertinggi intraday menembus 6.400. Nilai transaksi mencapai Rp5,36 triliun, volume perdagangan 15,65 miliar saham, dan frekuensi 807 ribu kali transaksi. Sebanyak 411 saham menguat, 172 melemah, dan 382 stagnan, menunjukkan dominasi aksi beli yang merata di hampir seluruh sektor.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia melonjak menjadi Rp11.208 triliun, bertambah sekitar Rp112 triliun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang sebesar Rp11.096 triliun. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan investor, terutama di sektor komoditas, teknologi, dan perbankan yang menjadi motor penggerak utama.
Dari sisi sektoral, bahan baku memimpin kenaikan sebesar 1,15%, disusul teknologi 1,11%, energi 0,82%, dan utilitas 0,80. Sektor keuangan justru menjadi satu-satunya sektor yang melemah tipis 0,02%, mengindikasikan rotasi dana ke sektor non-keuangan. Namun, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) justru menjadi kontributor terbesar penguatan IHSG dengan sumbangan 5,84 poin, diikuti PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) 5,48 poin, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 4,46 poin, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 4,41 poin, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) 3,53 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 3,37 poin, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 3,26 poin.
Sementara itu, tekanan terhadap indeks berasal dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang memangkas 4,41 poin, serta saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Secara teknikal, keberhasilan menembus level 6.400 menjadi sinyal bullish jangka pendek. Setelah mengalami koreksi tipis pada perdagangan Rabu yang mengakhiri reli sembilan hari beruntun, IHSG bangkit kembali dan membentuk higher high. Indeks masih bergerak jauh di atas weighted moving average (WMA) 9 yang berada di kisaran 6.257, mengonfirmasi tren naik jangka pendek. Area 6.400 yang sebelumnya menjadi resistance kini berubah menjadi support kritis. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut hingga penutupan, peluang menuju 6.450-6.500 semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan 6.400 dapat memicu aksi ambil untung setelah indeks menguat lebih dari 23% sejak titik terendah awal Juni.
Dari sisi fundamental, penguatan IHSG didukung oleh keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate di 5,25%, sesuai ekspektasi pasar. Meskipun investor asing masih mencatat jual bersih Rp920,3 miliar pada perdagangan sebelumnya, optimisme investor domestik dan rotasi ke saham komoditas dan teknologi mampu menjaga momentum. Bagi investor Indonesia, kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar masih memiliki tenaga untuk naik, namun kewaspadaan terhadap potensi koreksi tetap diperlukan, terutama jika level 6.400 tidak mampu dipertahankan.



