BI Rate Ditahan di 5,25%, Asing Justru Borong Saham Ini
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net buy terbesar di saham APIC senilai Rp297,7 miliar, di tengah aksi jual bersih Rp920,3 miliar di seluruh pasar.
- Saham komoditas dan energi mendominasi akumulasi asing, dengan TINS, ANTM, dan BUMI masuk jajaran teratas.
- Keputusan BI mempertahankan suku bunga memberikan kepastian, namun penguatan dolar AS masih membatasi aliran dana asing ke Indonesia.

Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,25% pada Rabu (22/7/2026), langkah yang sempat meredakan ketidakpastian pasar domestik. Namun, keputusan itu tak serta-merta menghentikan aksi jual investor asing yang masih tercatat net sell Rp920,3 miliar di seluruh pasar. Di tengah tekanan itu, sejumlah saham justru menjadi sasaran akumulasi asing secara signifikan.
Saham PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) menjadi primadona dengan net foreign buy mencapai Rp297,7 miliar, hampir seluruhnya berasal dari transaksi pasar negosiasi. Angka ini menempatkan APIC sebagai saham dengan akumulasi asing tertinggi pada perdagangan hari itu. Disusul oleh PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp55,5 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp48,9 miliar.
Selain itu, investor asing juga mengoleksi saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) senilai Rp44,5 miliar, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebesar Rp32,9 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp27,3 miliar. Pola akumulasi ini menunjukkan bahwa asing masih memfavoritkan sektor energi dan komoditas, dengan sedikit diversifikasi ke sektor perbankan dan infrastruktur.
Keputusan BI mempertahankan BI Rate di 5,25% sesuai ekspektasi pasar memberikan sinyal stabilitas, namun belum cukup membalikkan sentimen asing. Menurut analis pasar, penguatan dolar AS yang didorong ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama di Amerika Serikat membuat aliran modal asing ke negara berkembang masih selektif. Hal ini tercermin dari net sell yang masih besar meski ada akumulasi di saham tertentu.
IHSG sendiri mengakhiri reli sembilan hari beruntun dengan pelemahan tipis 0,09% ke level 6.334,48. Sebanyak 367 saham terkoreksi, 281 menguat, dan 317 stagnan. Volume perdagangan mencapai 44,63 miliar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali transaksi. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa pasar masih mencari arah di tengah ketidakpastian global.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa keputusan BI Rate memang penting, tetapi faktor eksternal seperti kebijakan The Fed tetap dominan. Akumulasi asing di saham komoditas dan energi bisa menjadi sinyal bahwa sektor tersebut dianggap memiliki prospek jangka panjang yang lebih baik dibandingkan sektor lain. Namun, investor ritel perlu mencermati risiko volatilitas akibat perubahan sentimen global yang cepat.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan sikap The Fed terhadap suku bunga. Jika dolar AS terus menguat, bukan tidak mungkin tekanan jual asing akan berlanjut, meski BI telah memberikan kepastian suku bunga. Pertanyaan besarnya: apakah akumulasi di saham komoditas ini hanya bersifat sementara atau awal dari pergeseran portofolio asing ke sektor riil Indonesia?



