IHSG Tertekan Aksi Jual Asing, Lima Saham Ini Masih Layak Dilirik
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,09% pada perdagangan Rabu (22/7) di tengah aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,11 triliun di pasar reguler.
- Tekanan jual asing terjadi setelah tiga hari berturut-turut mencatat pembelian bersih, seiring penguatan IHSG yang sudah melesat 12,25% secara month-to-date.
- Rekomendasi saham dari analis mencakup ELSA, CPIN, HRTA, MDIA, dan SOCI dengan level support dan resistance yang ketat, di tengah sentimen akuisisi tambang batu bara oleh SINI dan MEJA.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,09% ke level 6.334,48 pada perdagangan Rabu (22/7), tertekan aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,11 triliun di pasar reguler. Pelemahan ini terjadi setelah tiga hari berturut-turut asing mencatat pembelian bersih, seiring penguatan IHSG yang sudah melesat 12,25% secara month-to-date. Aksi ambil untung menjadi faktor utama di balik arus keluar dana asing, yang juga tercermin dari penurunan ETF EIDO sebesar 0,24% dan MSCI Indonesia yang melemah 0,88%.
Secara sektoral, empat dari sebelas indeks sektor ditutup di zona merah. Sektor transportasi menjadi yang terlemah dengan penurunan 1,73%, sementara sektor teknologi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,58%. Saham-saham seperti BREN, CASA, dan VKTR yang masing-masing naik 6,00%, 6,94%, dan 10,32% menjadi penopang utama IHSG. Di sisi lain, pelemahan BBRI (-1,63%), AMMN (-3,26%), dan BMRI (-1,34%) membebani indeks. Dari pasar global, indeks Amerika Serikat ditutup bervariasi dengan kecenderungan melemah: Dow Jones turun 0,01%, S&P 500 melemah 0,14%, dan Nasdaq terkoreksi 0,57%.
Sorotan utama berasal dari aksi korporasi PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) yang resmi mengakuisisi 99,99% saham Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha Petrosea (PTRO), dengan nilai transaksi Rp1,73 triliun. Nilai tersebut setara 110,26% dari total aset perseroan dan merupakan langkah ekspansi portofolio di sektor pertambangan batu bara. Harga akuisisi tercatat sekitar 5,98% di bawah nilai pasar sebesar Rp1,84 triliun, sehingga masih sesuai dengan ketentuan POJK No. 35 Tahun 2020. Transaksi ini memiliki estimasi internal rate of return (IRR) sebesar 19,58%. Melalui kepemilikan KMS, SINI secara tidak langsung menguasai 99% saham Cristian Eka Pratama (CEP) yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi hingga Juli 2038 di Kalimantan Timur. Akuisisi ini menambah cadangan batu bara sekitar 69,25 juta ton hingga 89,25 juta ton sekaligus memperluas wilayah operasional perseroan yang sebelumnya terkonsentrasi di Kalimantan Tengah. Pada tahap awal, tambang tersebut ditargetkan memproduksi sekitar 1 juta ton batu bara per tahun dan secara bertahap ditingkatkan hingga kapasitas optimal 5 juta ton per tahun. Perseroan memperkirakan aset baru ini akan memberikan kontribusi terhadap pendapatan konsolidasian sekitar 21,40% pada 2026 dan meningkat menjadi 27,06% pada 2027.
Sementara itu, PT Elnusa Tbk. (ELSA) melaporkan keberhasilan implementasi teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) berbasis polymer flooding pada proyek percontohan Lapangan Rama milik PHE Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES). Perseroan juga menerapkan teknologi Dual Completion di Lapangan Adera bersama Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, yang memungkinkan dua reservoir diproduksi melalui satu sumur tanpa pengeboran sumur baru pada setiap lapisan. Melalui kapabilitas Well Intervention & Completion serta Engineering Services, penerapan teknologi tersebut pada sumur BNG-D14 menghasilkan tambahan produksi sekitar 480 barel minyak per hari (BOPD) dan 3,30 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD), melampaui target awal masing-masing sebesar 186 BOPD dan 1,09 MMSCFD. Keberhasilan ini akan menjadi acuan untuk penerapan serupa pada sumur GNK-PD80 dan BNG-B7 dalam rangka optimalisasi lapangan migas yang telah memasuki fase matang.
Di sisi lain, PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA) berencana menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) untuk mendukung akuisisi perusahaan tambang batu bara Trimata Coal Perkasa (TCP). Langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi perseroan menjadi perusahaan induk (holding) di sektor pertambangan batu bara. Perseroan telah memperoleh persetujuan OJK untuk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 21 Agustus 2026. Agenda rapat mencakup persetujuan akuisisi TCP, pemberian kewenangan kepada direksi untuk meningkatkan modal dasar sebagai landasan pelaksanaan rights issue, serta perubahan kegiatan usaha dari bidang dekorasi dan konstruksi bangunan menjadi perusahaan induk. TCP diketahui memiliki konsesi tambang sekitar 11.640 hektare di Sumatra Selatan dengan sumber daya batu bara mencapai sekitar 693,70 juta ton.
Bagi investor yang mencari peluang jangka pendek, analis merekomendasikan lima saham dengan level support dan resistance yang ketat. ELSA direkomendasikan beli di rentang 670-680 dengan target harga 700-710 dan stop loss di 635. CPIN layak dibeli di 3180-3200, target 3250-3300, stop loss 3010. HRTA bisa dikoleksi di 1995-2010, target 2040-2080, stop loss 1880. MDIA direkomendasikan beli di 101-103, target 106-109, stop loss 95. SOCI layak dibeli di 384-388, target 394-400, stop loss 360. Dengan volatilitas yang masih tinggi, investor disarankan untuk mencermati level support dan resistance serta menerapkan manajemen risiko yang ketat.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh aliran dana asing dan sentimen global. Aksi jual asing yang terjadi saat ini bisa berlanjut jika pasar global masih tertekan, namun potensi penguatan masih terbuka mengingat fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil. Pertanyaannya, akankah investor asing kembali masuk setelah aksi ambil untung ini, atau justru akan memperberat pelemahan IHSG dalam jangka pendek?



