Reli 9 Hari Terhenti: IHSG Melemah, Asing Jual Bersih Rp920 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri tren positif sembilan hari beruntun setelah ditutup melemah 0,09% pada Rabu (22/7/2026).
- Investor asing mencatat net sell Rp920,3 miliar di pasar reguler, dengan saham DSSA menjadi yang paling banyak dilepas (Rp230 miliar).
- Aksi ambil untung terhadap saham-saham yang sebelumnya menjadi motor penggerak indeks menjadi pemic utama koreksi ini.

Setelah sembilan hari berturut-turut menorehkan penguatan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya kehilangan momentum. Pada perdagangan Rabu (22/7/2026), indeks ditutup melemah tipis 0,09% ke level 6.334,48, di tengah aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp920,3 miliar di pasar reguler.
Data perdagangan menunjukkan total nilai beli asing tercatat Rp4,835 triliun, sementara nilai jual mencapai Rp5,755 triliun. Secara keseluruhan, nilai transaksi di seluruh pasar mencapai Rp10,591 triliun. Aksi jual asing ini mengindikasikan adanya aksi ambil untung (profit taking) setelah reli panjang yang mengangkat IHSG ke zona hijau selama lebih dari seminggu.
Tekanan jual paling besar tertuju pada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang mencatatkan net foreign sell sebesar Rp230 miliar. Disusul oleh saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan net jual Rp141,1 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp137,2 miliar. Saham-saham lain yang juga dilepas asing antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp132 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp126,9 miliar.
Meskipun IHSG melemah, aktivitas perdagangan justru meningkat. Nilai transaksi harian mencapai Rp18,52 triliun dengan volume 44,63 miliar saham dalam 2,7 juta kali transaksi. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 367 saham tercatat turun, 281 naik, dan 317 stagnan. Lonjakan volume ini menunjukkan bahwa pergerakan indeks diwarnai oleh perpindahan dana yang masif, terutama dari investor asing yang mulai merealisasikan keuntungan.
Koreksi ini dapat dipahami sebagai fenomena alamiah setelah reli panjang. Saham-saham yang sebelumnya menjadi tulang punggung penguatan IHSGโseperti BBRI, ASII, dan TPIAโkini mengalami tekanan jual. Investor asing cenderung mengambil untung di level harga yang sudah tinggi, sementara investor domestik mungkin masih wait and see. Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada sentimen global, data ekonomi domestik, serta aksi korporasi emiten besar. Akankah koreksi ini berlanjut atau justru menjadi titik masuk bagi investor baru? Pasar akan memberikan jawabannya dalam beberapa sesi ke depan.



