Rubio Jamin Komitmen AS di ASEAN: Stabilitas Kawasan Terancam Ambisi Iran
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan dukungan penuh Washington kepada ASEAN di tengah kekhawatiran negara-negara Asia atas eskalasi konflik Timur Tengah.
- Rubio memperingatkan bahwa tuntutan Iran mengendalikan Selat Hormuz dan memungut tol dapat menjadi preseden berbahaya yang mengancam kebebasan navigasi global, termasuk di Asia.
- Pertemuan Rubio dengan para menteri Quad dan China menyoroti upaya diplomasi AS untuk menjaga stabilitas Indo-Pasifik sambil mengelola perbedaan dengan Beijing.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memberikan jaminan tegas kepada negara-negara ASEAN bahwa Washington tetap berada di pihak mereka, meskipun perhatian Amerika sedang tersita oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan Rubio di sela-sela pertemuan tahunan dengan para menteri luar negeri ASEAN di Manila, Filipina, yang berlangsung di tengah kekhawatiran kawasan atas dampak ekonomi dan keamanan dari ketegangan di kawasan Teluk.
Rubio secara spesifik menyoroti langkah Iran yang menuntut kendali dan pemungutan tol di Selat Hormuz—jalur laut strategis yang dilalui sepertiga perdagangan minyak dunia. Menurut Rubio, jika tuntutan tersebut dibiarkan, maka akan tercipta preseden berbahaya bagi kebebasan navigasi di seluruh dunia, termasuk di kawasan Asia. “Jika sebuah negara merasa berhak mengendalikan perairan internasional, memungut tol, dan jika tidak dibayar mereka akan menenggelamkan kapal Anda, maka preseden itu akan terulang di belahan dunia lain, termasuk di kawasan ini,” ujar Rubio.
Peringatan Rubio ini menjadi relevan bagi Indonesia dan negara ASEAN lainnya yang sangat bergantung pada jalur pelayaran internasional. Jika Iran benar-benar menerapkan kendali atas Selat Hormuz, bukan hanya harga minyak yang berpotensi melonjak, tetapi juga biaya logistik dan inflasi di dalam negeri bisa tertekan. Kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh sejumlah menteri ASEAN dalam pertemuan tertutup, yang menilai stabilitas kawasan Indo-Pasifik tidak bisa dipisahkan dari keamanan jalur laut global.
Selain membahas Timur Tengah, Rubio juga menggelar pertemuan dengan para mitra Quad—yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, India, dan Jepang. Dalam pertemuan tersebut, keempat negara membahas prioritas bersama di bidang teknologi, bantuan kemanusiaan, tanggap darurat, serta keamanan maritim dan transnasional. Mereka kembali menegaskan komitmen terhadap inisiatif keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik. “Kami bersatu dalam keyakinan bahwa perdamaian dan stabilitas di domain maritim Indo-Pasifik menjadi landasan keamanan dan kemakmuran kawasan,” demikian pernyataan bersama para pemimpin Quad.
Rubio juga menyempatkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi untuk membahas rencana kunjungan Presiden Xi Jinping ke Amerika Serikat. Meskipun kedua negara memiliki perbedaan, Rubio menekankan pentingnya mengelola perbedaan tersebut dan mencari area potensial kerja sama. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pertemuan puncak dengan Xi bisa digelar pada akhir September. Namun, pertemuan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara dua ekonomi terbesar dunia, yang bisa diperumit oleh tuduhan Trump mengenai campur tangan China dalam pemilu AS—sesuatu yang dibantah keras Beijing.
Bagi Indonesia, dinamika hubungan AS-China dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik memiliki dampak langsung terhadap iklim investasi dan perdagangan. Sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, Indonesia berkepentingan agar kedua raksasa ekonomi tersebut dapat mengelola persaingan secara konstruktif. Pertemuan Rubio dengan Wang Yi setidaknya memberikan sinyal bahwa komunikasi tetap terbuka, meskipun ketegangan belum sepenuhnya mereda.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AS mampu mempertahankan komitmennya terhadap keamanan Asia sementara fokusnya terbagi dengan krisis di Timur Tengah. Rubio telah memberikan jaminan, tetapi implementasi di lapangan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kredibilitas Washington di mata ASEAN.



