Gedung Putih Siap Ganti Wamenhan AS? Feinberg Diuji di Tengah Perang Iran
Baca dalam 60 detik
- Langkah evaluasi kandidat pengganti Wamenhan AS Steve Feinberg mengemuka di tengah kekosongan sejumlah kursi pimpinan di Pentagon.
- Ketegangan antara Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Feinberg mencuat setelah tuduhan gagal menjaga stok rudal, meski Gedung Putih membantah.
- Kongres dan industri pertahanan menyoroti lambannya produksi amunisi AS, yang berimplikasi pada kesiapan militer dan dinamika geopolitik global.

Gedung Putih dikabarkan tengah menjajaki sejumlah nama untuk menggantikan Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Steve Feinberg, sebuah sinyal bahwa gejolak kepemimpinan di Pentagon belum mereda. Meski belum ada keputusan final, proses peninjauan yang berlangsung sejak Juni itu melibatkan konsultasi dengan senator senior untuk menguji peluang konfirmasi para kandidat, menurut tiga sumber yang mengetahui langsung pembahasan tersebut.
Langkah ini muncul di tengah tingginya pergantian pejabat di bawah Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Sebelumnya, Sekretaris Angkatan Darat Dan Driscoll mengundurkan diri setelah berbulan-bulan bersitegang dengan Hegseth, menyusul kepergian Sekretaris Angkatan Laut John Phelan dan sejumlah perwira senior lainnya. Jika Feinberg benar-benar hengkang, ini akan menjadi perubahan paling senior di departemen yang tengah menghadapi tekanan besar akibat perang Iran yang telah berlangsung enam bulan.
Feinberg, miliarder pendiri perusahaan ekuitas swasta Cerberus Capital Management, ditunjuk Trump tahun lalu dengan mandat mempercepat produksi amunisi. Namun, para analis menilai target itu belum tercapai karena basis industri AS tidak mampu meningkatkan kapasitas secara cepat. Para eksekutif industri pertahanan juga menyebut proses alokasi anggaran Kongres yang lambat menjadi penghambat, meski pemerintahan Trump terus mendesak.
Ketegangan memuncak setelah laporan Washington Post mengungkap bahwa Hegseth menyalahkan Feinberg atas menyusutnya stok rudal jarak jauh dan pencegat pertahanan udara dalam pertemuan dengan Trump di Camp David. Gedung Putih menyebut laporan itu sebagai "berita bohong", dan juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan Hegseth tidak menyesatkan siapa pun dan tidak menyalahkan Feinberg. Namun, kekhawatiran tentang kelangkaan munisi di tengah perang yang mahal terus bergema di Kongres dan kalangan militer.
Di sisi lain, Feinberg berupaya mengubah wajah Pentagon dengan meningkatkan investasi langsung militer ke perusahaan dan menyalurkan pinjaman ke kontraktor melalui berbagai kantor, termasuk Office of Strategic Capital dan Economic Defense Unit. Dalam memo tertanggal 18 Agustus yang dilihat Reuters, ia mendesak kontraktor mempercepat produksi dan meningkatkan transparansi harga. Namun, langkahnya juga menuai sorotan; Senator Elizabeth Warren mempertanyakan potensi konflik kepentingan antara Feinberg dan Cerberus dalam program pertahanan rudal Golden Dome, meski Pentagon membantah adanya konflik karena Feinberg telah melepas kepemilikan dan mundur dari urusan bisnis terkait.
Bagi Indonesia, dinamika internal Pentagon ini patut dicermati. Sebagai negara yang selama ini mengandalkan keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik, perubahan kepemimpinan di tubuh militer AS dapat memengaruhi kebijakan pertahanan dan alokasi sumber daya, termasuk komitmen keamanan di Asia Tenggara. Selain itu, ketidakpastian produksi amunisi AS bisa berdampak pada rantai pasok global dan harga komoditas pertahanan, yang pada akhirnya memengaruhi anggaran militer negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Trump akan benar-benar mengganti Feinberg atau sekadar memberi tekanan untuk mempercepat reformasi. Jika Feinberg bertahan, ia harus membuktikan kemampuannya memenuhi target produksi di tengah keterbatasan industri. Jika diganti, siapa pun penggantinya akan mewarisi tantangan yang sama: memodernisasi militer AS di tengah perang yang menguras sumber daya. Keputusan ini tidak hanya menentukan arah Pentagon, tetapi juga sinyal stabilitas kepemimpinan AS di mata sekutu dan lawan.



