Darurat Kabut Asap di Sarawak: 647 Sekolah Ditutup, Warga Mulai Membandingkan dengan Pandemi
Baca dalam 60 detik
- Serian menjadi wilayah pertama di Malaysia yang mengumumkan status darurat akibat kabut asap tahun ini, dengan indeks pencemaran udara menembus 500.
- Dampak ekonomi mulai terasa: rumah makan sepi pengunjung, masker langka, dan klinik kebanjiran pasien gangguan pernapasan.
- Meteorologi Malaysia memperkirakan kabut asap bertahan setidaknya sepekan ke depan, dipengaruhi angin monsun barat daya yang membawa asap dari kebakaran hutan Indonesia.

Kabut asap lintas batas yang bersumber dari kebakaran hutan di Indonesia kembali melumpuhkan aktivitas warga Sarawak, Malaysia Timur. Distrik Serian menjadi wilayah pertama yang memberlakukan status darurat setelah Indeks Pencemaran Udara (API) menembus angka 500, level yang oleh otoritas setempat dikategorikan sebagai 'sangat berbahaya'. Kondisi ini memaksa 647 sekolah di 12 distrik ditutup selama lima hari, membatalkan berbagai acara publik, dan memicu kekhawatiran akan krisis kesehatan yang lebih luas.
Bagi Azie Nurazrin Aziz, ibu hamil trimester ketiga yang juga pengidap asma, kabut asap membuat aktivitas hariannya terasa 'tercekik'. Setiap minggu ia harus menghadiri hingga tiga kali janji temu di klinik dan rumah sakit, sambil mengelola restorannya di Kuching. "Saya harus membagi-bagi keperluan agar tidak terlalu lama terpapar di luar, ini sangat menyiksa," ujarnya. Ia mengaku cemas jika serangan asma mendadak datang, mengingat kehamilannya masuk kategori berisiko tinggi.
Fenomena ini bukanlah hal baru bagi Sarawak. Pada 2019, kabut asap pernah melanda dengan API mencapai 405, namun kali ini MetMalaysia menyebutnya sebagai episode terburuk sejak saat itu. Yang membedakan, dampaknya kini terasa lebih luas: masker hilang dari rak-rak apotek, klinik melaporkan lonjakan pasien hingga dua kali lipat, dan para pekerja informal seperti pengemudi ojek daring serta pedagang kaki lima terpaksa tetap beraktivitas di tengah udara beracun demi menyambung hidup.
Di Serian, status darurat yang diumumkan Jumat lalu justru menyisakan kebingungan. Banyak warga mengaku tidak mendapat penjelasan rinci tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. "Kami hanya tahu dari berita bahwa ada darurat dan kami tidak boleh keluar," kata Juliana Nurus Tahir, pegawai kantoran yang harus tetap bepergian ke Kuching setiap hari. Ketidakjelasan ini diperparah kenyataan bahwa banyak penduduk Serian adalah petani dan pekebun yang menggantungkan hidup pada aktivitas harian di luar ruangan.
Dampak ekonomi mulai terlihat nyata. Hanis Ahmad, penjual nasi kerabu di pusat jajanan Kubah Ria, Kuching, mengaku pendapatannya anjlok drastis. Padahal, liburan sekolah seharusnya menjadi berkah. "Untuk bulan ini, bahkan untuk impas pun sangat sulit. Jika kabut asap berlanjut hingga bulan depan, saya tidak tahu berapa lama lagi saya bisa bertahan," keluhnya. Restoran Esco Beach di Pantai Damai juga kehilangan separuh pelanggan akhir pekan, sementara Desa Budaya Sarawak mencatat penurunan jumlah wisatawan.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, anak-anak, serta pekerja luar ruangan menghadapi risiko terbesar. "Mereka yang bekerja di luar ruangan, seperti kurir dan buruh bangunan, tidak punya pilihan untuk tetap di dalam rumah," ujar Sam Froze Jiee, pakar kesehatan masyarakat dari Universiti Malaysia Sarawak. Grab rider di Miri, Samuel Jeffrey, mengaku baru sembuh dari batuk akibat kabut asap, namun harus tetap bekerja dengan mengenakan masker dan mengurangi jam kerja di siang hari yang terik.
Bagi Indonesia, kabut asap ini adalah pengingat pahit akan persoalan karhutla yang belum tuntas. Setiap tahun, titik api di Sumatera dan Kalimantan kerap memicu kabut asap yang tidak hanya merugikan warga lokal, tetapi juga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Tekanan diplomatik pun biasanya menguat, namun solusi jangka panjang seperti restorasi gambut dan penegakan hukum yang konsisten masih jauh dari harapan.
MetMalaysia memperkirakan kondisi ini akan bertahan setidaknya satu minggu ke depan, diperparah oleh musim kemarau dan minimnya curah hujan. "Angin monsun barat daya yang bertiup dari arah barat daya menjadi media utama yang membawa asap dari titik panas langsung ke barat dan selatan Sarawak," jelas Direktur Jenderal MetMalaysia, Mohd Hisham Mohd Anip. Selama angin ini konsisten, kabut asap kemungkinan akan terus berhembus ke wilayah tersebut.
Pertanyaan besarnya kini: akankah krisis ini menjadi momentum bagi negara-negara di kawasan untuk serius menangani akar masalah kebakaran hutan, atau hanya akan menjadi siklus tahunan yang terus berulang? Bagi warga Sarawak yang sudah dua kali mengalami darurat kabut asap dalam dua dekade terakhir, jawabannya masih menggantung di udara yang penuh asap.



