CCTV Rusak di Anak Krakatau: Pemantauan Gunung Tetap Berjalan, Ini Jaminan Badan Geologi
Baca dalam 60 detik
- Kerusakan perangkat pemantau di kawah Anak Krakatau memicu kekhawatiran, namun Badan Geologi memastikan sistem multiparameter tetap beroperasi.
- Badan Geologi menegaskan perbaikan alat hanya dilakukan saat kondisi aman, mengutamakan keselamatan petugas di tengah aktivitas vulkanik tinggi.
- Evaluasi morfologi terbaru menunjukkan pertumbuhan tubuh gunung pasca-tsunami 2018 masih kecil dan belum berpotensi memicu tsunami serupa.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pengawasan aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak terganggu meski sejumlah perangkat pemantau, termasuk kamera CCTV di dekat kawah, mengalami kerusakan. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa sistem pemantauan yang digunakan bersifat multiparameter, sehingga ketergantungan pada satu instrumen dapat diminimalkan.
Dalam konferensi pers virtual pada Minggu (6/9/2026), Lana menjelaskan bahwa parameter yang tetap diandalkan meliputi jaringan seismik, pengamatan visual dari lokasi aman, pengukuran deformasi dan emisi gas, citra satelit, serta informasi dari lapangan. Redundansi instrumen ini menjadi kunci karena peralatan yang dipasang di dekat gunung api aktif selalu terpapar risiko lontaran material, abu vulkanik, cuaca ekstrem, hingga gangguan komunikasi.
Kerusakan perangkat memang dapat mengurangi cakupan pengamatan visual dari titik tertentu, tetapi Lana menekankan bahwa hal itu tidak menghentikan upaya pemantauan secara keseluruhan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga terus melakukan evaluasi kualitas dan kontinuitas data untuk memastikan informasi yang dihasilkan tetap akurat.
Lana juga menegaskan bahwa perbaikan atau penggantian peralatan akan mempertimbangkan aspek keselamatan personel. "Selama aktivitas tinggi, personel tidak akan dikirim memasuki zona berbahaya hanya untuk memperbaiki sistem," ujarnya. Langkah ini menunjukkan prioritas pada keselamatan petugas di tengah ketidakpastian kondisi gunung.
Selain membahas kendala teknis, Lana memberikan klarifikasi penting mengenai potensi tsunami. Ia menekankan bahwa tidak setiap erupsi Anak Krakatau akan memicu tsunami. Peristiwa tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu lebih berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi. Morfologi gunung saat ini pun berbeda dibandingkan sebelum 2018; sebagian besar tubuh gunung di sisi tertentu telah runtuh dan kemudian tumbuh kembali melalui aktivitas erupsi berikutnya.
Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utama tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya. Evaluasi hingga saat ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 2018 masih relatif kecil, sehingga belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, Lana menegaskan bahwa perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif.
Bagi masyarakat pesisir Selat Sunda, pernyataan ini memberikan sedikit kelegaan, namun kewaspadaan tetap diperlukan. Badan Geologi terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BPBD untuk memastikan kesiapsiagaan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah investasi pada instrumen pemantau yang lebih tahan banting akan menjadi prioritas untuk mengurangi risiko serupa di masa depan?



