Lima Tahun Kepergian Sarah Harding, Nicola Roberts: 'Dia Masih Menyelamatkan Nyawa'
Baca dalam 60 detik
- Nicola Roberts mengenang lima tahun wafatnya Sarah Harding, personel Girls Aloud, dengan sorotan pada warisan amal yang ditinggalkan.
- The Sarah Harding Breast Cancer Appeal terus berjalan, mendanai riset deteksi dini kanker payudara pada wanita muda, sebuah misi yang digagas sebelum Harding tutup usia.
- Di tengah duka, Nicola yang baru saja menjadi ibu merasa bangga karena yayasan mendiang tetap aktif, menyelamatkan nyawa meski Harding sendiri harus pergi.

Lima tahun sudah vokalis Girls Aloud, Sarah Harding, berpulang, namun gaung perjuangannya melawan kanker payudara masih terasa hingga kini. Nicola Roberts, rekan satu bandnya, pada Sabtu (5/9/2026) menyampaikan penghormatan terakhir melalui unggahan Instagram yang menyentuh, merayakan warisan amal yang ditinggalkan Harding—sebuah pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada perjuangan panjang yang tak pernah selesai.
Harding tutup usia pada September 2021 di umur 39 tahun setelah berjuang melawan kanker payudara. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Nicola, Cheryl, Nadine Coyle, dan Kimberley Walsh, yang kemudian memberi penghormatan dalam tur reuni Girls Aloud. Namun, bagi Nicola, momen lima tahun ini terasa lebih personal—ia baru saja melahirkan anak pertamanya, dan emosi yang campur aduk membuatnya semakin larut dalam kenangan.
Dalam unggahannya, Nicola mengunggah foto lawas Girls Aloud dan menulis, "Sulit dipercaya sudah lima tahun sejak Sarah pergi. Banyak hal terjadi yang seharusnya ia saksikan. Hatiku terutama tertuju pada Marie, ibunya, hari ini." Ia juga mengakui bahwa perubahan hormon dan kurang tidur pasca-melahirkan memperkuat rasa harunya. "Saat mengetik ini, aku merasa sangat sedih dan kembali ke hari lima tahun lalu. Momen sebesar ini pasti akan berdampak seperti ini, terutama bagi teman dan keluarganya," tambahnya.
Di tengah kesedihan, Nicola justru memilih untuk menyoroti sisi lain: kebanggaan. The Sarah Harding Breast Cancer Appeal, yayasan yang didirikan untuk mengenang Harding, terus berjuang mendanai riset deteksi dan pencegahan kanker payudara pada wanita muda. "Aku juga merasa bangga bahwa Sarah meninggalkan warisan lewat amalnya, dan semua orang yang berjanji membantunya masih terus berjuang untuk secercah harapan yang ia perjuangkan," tulis Nicola. "Dia menyelamatkan nyawa. Andai saja ia tak harus kehilangan nyawanya sendiri."
Unggahan Nicola langsung dibanjiri dukungan dari rekan sesama musisi dan penggemar. Keisha Buchanan dari Sugababes berkomentar, "Sarah selalu dirindukan." Komentar lain berbunyi, "Lima tahun, namun semangat listriknya masih terasa setiap hari. Tak akan pernah dilupakan." Dukungan ini menunjukkan betapa besar pengaruh Harding, tidak hanya sebagai personel Girls Aloud, tetapi juga sebagai simbol perjuangan melawan kanker.
Bagi penggemar di Indonesia, kisah Harding mengingatkan pada pentingnya kesadaran dini akan kanker payudara, yang juga menjadi salah satu jenis kanker dengan kasus tertinggi di Tanah Air. Yayasan seperti yang didirikan Harding bisa menjadi inspirasi bagi inisiatif serupa di Indonesia, di mana akses skrining dan edukasi masih menjadi tantangan, terutama di daerah terpencil. Dedikasi Nicola dan rekan-rekannya untuk terus menghidupkan warisan Harding menunjukkan bahwa solidaritas dan aksi nyata dapat melampaui batas negara.
Ke depannya, publik akan terus mengawal perjalanan The Sarah Harding Breast Cancer Appeal. Pertanyaannya, apakah semangat yang sama akan terus menyala di tahun-tahun mendatang, atau akankah ada wajah-wajah baru yang terinspirasi untuk meneruskan perjuangan ini? Yang jelas, lima tahun berlalu, namun jejak Harding tetap hidup—bukan hanya dalam ingatan, tetapi dalam setiap nyawa yang berhasil diselamatkan melalui riset yang ia perjuangkan.



