Perunggu WCS Koper Jadi Modal Berharga Srondeng Menuju Asian Games 2026
Baca dalam 60 detik
- Atlet panjat tebing Indonesia, Putra Tri Ramadani, memastikan podium ketiga nomor lead pada seri perdana World Climbing Series musim 2026 di Slovenia.
- Hasil ini menjadi sinyal positif bagi persiapan menuju Asian Games Aichi-Nagoya, di mana FPTI menargetkan peningkatan peringkat dunia.
- Persaingan di nomor lead masih didominasi atlet Jepang, menunjukkan peta kekuatan yang harus diwaspadai Indonesia pada ajang multievent tahun ini.

Putra Tri Ramadani, yang akrab disapa Srondeng, mengukir prestasi di kancah panjat tebing internasional dengan merebut medali perunggu nomor lead putra pada World Climbing Series (WCS) Koper 2026 di Slovenia. Pencapaian ini bukan sekadar tambahan koleksi medali, melainkan sinyal kesiapan atlet berusia 20 tahun tersebut menghadapi Asian Games Aichi-Nagoya yang akan berlangsung September mendatang.
Pada babak final yang digelar akhir pekan lalu, Srondeng menuntaskan tantangan dengan skor 28+, cukup untuk mengamankan posisi ketiga. Ia harus mengakui keunggulan dua pendaki Jepang, Neo Suzuki yang menjadi juara dengan torehan 33+ dan Satone Yoshida yang duduk di peringkat kedua lewat skor 30+. Dominasi Negeri Sakura di nomor lead kembali terlihat, namun penampilan Srondeng menunjukkan bahwa jarak dengan pendaki elite dunia semakin tipis.
Perjalanan Srondeng di Koper terbilang impresif. Ia memulai dari kualifikasi dengan catatan 5,1 dan menempati peringkat ketujuh, kemudian merangkak naik ke posisi kelima pada semifinal dengan nilai 33. Konsistensi ini menjadi modal penting, terutama ketika persaingan di babak akhir diwarnai nama-nama kuat dari Jepang, Italia, dan Korea Selatan. Pelatih dan pengamat menilai kemampuan Srondeng dalam membaca jalur (route reading) dan mengelola tekanan menjadi faktor kunci di balik performanya.
Bagi Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI), hasil ini sejalan dengan target yang dipasang sebelum keberangkatan ke Slovenia. Federasi memang sengaja mengirim atlet ke seri WCS bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk mengumpulkan poin peringkat dunia dan menguji kesiapan mental menghadapi Asian Games 2026. Koper menjadi panggung uji coba yang ideal, mengingat nomor lead akan dipertandingkan di Aichi-Nagoya pada 19 September hingga 4 Oktober.
Konteks domestik, torehan Srondeng menambah daftar prestasi panjat tebing Indonesia di level internasional, setelah sebelumnya tim speed relay juga mempersembahkan medali. Namun, yang lebih penting adalah pesan bahwa pembinaan atlet muda mulai menunjukkan hasil. Dengan usia yang masih 20 tahun, Srondeng memiliki ruang pengembangan yang luas, dan pengalaman melawan pendaki top dunia seperti Suzuki dan Yoshida akan menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana FPTI mengelola momentum ini. Akankah Srondeng diberi lebih banyak porsi kompetisi internasional untuk mengasah konsistensinya? Atau justru fokus pada pemeliharaan kondisi jelang Asian Games? Jawabannya akan menentukan apakah medali perunggu di Slovenia ini menjadi awal dari kebangkitan panjat tebing Indonesia di kancah Asia, atau sekadar kilatan sesaat.



