Australia Kecam Uji Coba Rudal China di Pasifik: Ancaman bagi Stabilitas Regional
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong secara terbuka mengecam uji coba rudal balistik berkemampuan nuklir China di Samudra Pasifik sebagai tindakan destabilisasi.
- Kecaman ini disampaikan dalam pertemuan dengan Menlu China Wang Yi di Manila, di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.
- Langkah Australia memperkuat aliansi dengan Filipina melalui donasi drone dan pelatihan, menandakan pergeseran strategi keamanan di kawasan.

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, secara langsung menyampaikan protes keras kepada China terkait uji coba rudal balistik berkemampuan nuklir yang dilakukan di kawasan Pasifik. Dalam pertemuan bilateral dengan Menlu China Wang Yi di sela-sela pertemuan menteri ASEAN di Manila, Wong menegaskan bahwa tindakan tersebut bersifat destabilisasi dan melanggar norma keamanan regional.
Uji coba yang dilakukan pada awal Juli lalu itu melibatkan kapal selam China yang menembakkan rudal dengan hulu ledak palsu hingga mencapai area laut lepas di Pasifik. Menurut pemantau, rudal tersebut mendarat di perairan antara Kepulauan Solomon, Nauru, dan Tuvalu—sebuah kawasan yang selama ini dijaga bebas dari uji coba nuklir oleh negara-negara Pasifik. Australia dan selusin negara pulau Pasifik sebelumnya mengecam China karena tidak memberikan pemberitahuan yang cukup sebelum peluncuran.
“Kami telah menyampaikan secara terbuka dan langsung kepada China bahwa uji coba rudal ini kami anggap destabilisasi,” ujar Wong kepada wartawan di Manila, Rabu (22/7). Ia menambahkan bahwa Australia menginginkan kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera, di mana semua negara, termasuk kekuatan besar, menghormati hukum internasional dan hukum laut.
Kecaman ini muncul sehari setelah Wong mengecam “perilaku berbahaya” China dalam insiden bentrokan antara awak kapal Filipina dan China di Second Thomas Shoal, bagian dari Kepulauan Spratly yang disengketakan. Dalam insiden tersebut, seorang pelaut Filipina dilaporkan dipukul di kepala dengan pentungan oleh awak kapal China. Wong menegaskan bahwa Australia memiliki “kekhawatiran nyata terhadap perilaku yang destabilisasi dan berisiko” di kawasan.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Australia menunjukkan dukungan konkret kepada Filipina. Saat mengunjungi kapal penjaga pantai Filipina pada Selasa (21/7), Wong mengumumkan donasi senilai 413 juta peso Filipina (sekitar US$6,7 juta) berupa teknologi drone mutakhir dan pelatihan operator untuk Penjaga Pantai Filipina. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat kapasitas pertahanan maritim Filipina dalam menghadapi tekanan China di Laut China Selatan.
Bagi Indonesia, eskalasi ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara tetangga dan sesama anggota ASEAN, Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas kawasan. Uji coba rudal China yang tidak transparan dan insiden bentrokan di Laut China Selatan dapat memicu perlombaan senjata dan mengganggu arus perdagangan di jalur laut strategis. Pemerintah Indonesia diharapkan mengambil sikap tegas dalam forum ASEAN untuk mendorong penyelesaian damai dan kepatuhan terhadap hukum internasional.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah China akan mengubah pendekatannya atau justru semakin agresif. Dengan Australia yang semakin vokal dan Filipina yang diperkuat, kawasan Pasifik dan Laut China Selatan berpotensi menjadi titik panas baru. ASEAN, termasuk Indonesia, harus memainkan peran sentral untuk meredakan ketegangan sebelum situasi semakin tidak terkendali.



