Korban Selamat KM Nurul Salsa: Pompa Macet, Mesin Mati, Empat Hari Terombang-ambing
Baca dalam 60 detik
- Seorang korban selamat menceritakan kronologi tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, setelah mesin mati diterjang gelombang tinggi dan pompa air macet.
- Andi Samad, yang sempat diminta awak kapal memperbaiki pompa, gagal menyelamatkan kapal karena air sudah terlalu banyak masuk ke lambung.
- Tim SAR gabungan memperluas pencarian hingga perairan Nusa Tenggara Barat pada hari kedelapan, dengan membagi area operasi menjadi dua sektor.

Andi Samad (62), seorang penumpang yang selamat dari tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, mengungkapkan detik-detik menjelang kapal karam yang berujung pada empat hari terombang-ambing di laut lepas. Peristiwa yang terjadi pada 15 Juli lalu itu bermula ketika kapal kehilangan tenaga setelah dihantam gelombang setinggi lebih dari tiga meter, menyebabkan mesin utama mati total di tengah lautan.
Menurut Andi, setelah mesin mati, awak kapal segera menurunkan jangkar untuk menahan posisi kapal agar tidak hanyut. Namun, ombak besar yang terus menerjang membuat air laut masuk ke bagian bawah lambung kapal. Situasi semakin kritis ketika pompa air bermesin diesel—yang biasa disebut alkon—yang digunakan untuk menguras air mengalami kemacetan. Mengetahui Andi memiliki kemampuan memperbaiki mesin, awak kapal memintanya membantu. Mesin pompa sempat berhasil dihidupkan kembali, tetapi upaya itu sia-sia karena volume air yang sudah terlalu banyak.
"Karena air yang telah masuk terlalu banyak, pompa tidak lagi sanggup menguras genangan di dalam lambung kapal. Kemudian mesin kembali mati total," ujar Andi saat dirawat di RSUD KH Hayyung Selayar, Rabu (22/7). Menyadari kondisi kapal semakin kritis, Andi mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Ia memberi tahu istrinya, Sitti Amang (55), agar tetap tenang dan bersiap menyelamatkan diri. Di tengah kepanikan penumpang, Andi memilih tidak langsung melompat ke laut, masih berharap ada kapal lain yang melintas untuk memberikan pertolongan.
Sebelum kapal benar-benar tenggelam, Andi melihat badan kapal terus miring ke kiri hingga nyaris terbalik. Ia kemudian meminta istrinya menyiapkan gabus untuk dijadikan rakit darurat. Setelah rakit siap, mereka melompat ke laut. Namun, saat menjauh dari kapal, Andi sempat tertimpa patahan balok kayu. Beruntung, ia bersama istrinya dan tiga penumpang lain—Bau Asseng (23), Diska Yanti (7), dan Sri Ardita (17)—berhasil selamat dari arus hisap saat KM Nurul Salsa tenggelam. Sejak saat itu, mereka bertahan hidup selama empat hari tanpa makanan dan air bersih, terombang-ambing di tengah lautan sebelum akhirnya ditemukan tim penyelamat.
Operasi pencarian terhadap korban lainnya masih terus berlangsung. Pada Rabu (22/7), tim SAR gabungan memfokuskan pencarian di wilayah Kepulauan Sabalana hingga perairan Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepala Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis data arus laut, terdapat potensi objek hanyut bergerak ke arah perairan NTB. Pada hari kedelapan, pencarian dibagi menjadi dua sektor: SRU pertama menggunakan KN SAR Pacitan dan Rigid Inflatable Boat (RIB) menyisir bagian timur Kepulauan Sabalana, khususnya pulau-pulau tidak berpenghuni; sementara SRU kedua dengan KLM Mattoangin menyisir bagian barat kepulauan tersebut.
Kisah Andi Samad menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat di laut. Keberanian dan ketenangannya dalam situasi kritis menjadi faktor kunci yang menyelamatkan nyawa dirinya dan istrinya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah upaya pencarian yang diperluas mampu menemukan korban lain yang masih hilang? Atau akankah tragedi ini kembali membuka diskusi tentang standar keselamatan pelayaran di Indonesia?



