Erupsi Menerus Anak Krakatau Berlangsung Lebih dari Lima Jam: Status Siaga dan Ancaman Lava Pijar
Baca dalam 60 detik
- Gunung Anak Krakatau memuntahkan lava dan abu selama lebih dari lima jam, mengguncang warga hingga tiga provinsi.
- Status Siaga Level III masih bertahan, dengan larangan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah.
- Debu vulkanik yang terbawa angin berpotensi mengganggu kesehatan warga di Banten, Jawa Barat, hingga Lampung.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat rentetan erupsi Gunung Anak Krakatau yang dimulai Sabtu (5/9/2026) pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga Minggu (6/9/2026) pukul 04.40 WIB. Lebih dari lima jam aktivitas vulkanik ini memuntahkan kolom lava pijar yang terlihat dari pantai, disertai suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga ke sejumlah kabupaten di Banten, Jawa Barat, dan Lampung.
Meski tinggi kolom abu tidak teramati secara visual karena tertutup kabut, pantauan melalui kamera CCTV di Pos PGA Krakatau Pasauran memperlihatkan semburan api yang konsisten, mengindikasikan pola erupsi yang oleh para ahli disebut sebagai lava fountain—air mancur lava yang menghasilkan aliran lava ke lereng gunung. Fenomena ini, menurut catatan Badan Geologi, bukanlah kejadian luar biasa untuk Anak Krakatau, tetapi durasinya yang panjang patut diwaspadai karena berpotensi memicu aliran piroklastik dan hujan abu di wilayah yang lebih luas.
Status gunung yang berada di Selat Sunda ini masih bertahan di Level III (Siaga). Imbauan resmi yang dikeluarkan Badan Geologi menegaskan larangan bagi siapa pun—masyarakat, wisatawan, maupun pendaki—untuk mendekati pusat erupsi dalam radius tiga kilometer. Ancaman utama saat ini bukanlah awan panas, melainkan lontaran batu pijar dan aliran lava yang dapat mencapai area pantai. Warga di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang namun waspada, serta mengikuti arahan BPBD setempat.
Dampak erupsi ini tidak hanya dirasakan di sekitar gunung. Sejumlah warga di Tangerang Selatan dan Bogor melaporkan udara yang terasa berdebu, diduga kuat merupakan abu vulkanik yang terbawa angin ke arah timur. Jika pola ini berlanjut, kualitas udara di wilayah Jabodetabek bagian selatan dapat menurun, berisiko bagi penderita gangguan pernapasan. Badan Geologi mengingatkan agar warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama jika hujan abu mulai turun.
Kepala Pos PGA Krakatau Pasauran, melalui keterangan resminya, menyatakan bahwa getaran akibat erupsi masih terekam hingga Minggu pagi. Masyarakat pesisir yang sempat panik dilaporkan sudah kembali beraktivitas normal, sejalan dengan imbauan agar tidak terpancing isu yang tidak berdasar. Namun, pengalaman erupsi besar pada 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda masih menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas Anak Krakatau harus dipantau secara ketat, terutama oleh otoritas pariwisata dan pelaku usaha di sekitar kawasan tersebut.
Bagi warga Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan posisi geologis yang unik: Anak Krakatau adalah gunung api muda yang tumbuh di atas kaldera raksasa, dan aktivitasnya kerap menjadi barometer kesiapsiagaan bencana nasional. Pertanyaannya kini bukan hanya kapan erupsi akan berhenti, tetapi seberapa cepat sistem peringatan dini dan koordinasi lintas daerah dapat merespons jika intensitasnya meningkat. Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, sebaran abu berpotensi lebih luas, menjadikan pemantauan kualitas udara dan kesehatan masyarakat sebagai prioritas yang tidak bisa ditunda.



