James Norton Nyaris Pingsan di Meja Makan Gengsi: Drama Diabetes di Tengah Pidato Nicole Kidman
Baca dalam 60 detik
- Aktor James Norton mengalami hipoglikemia akut saat menghadiri jamuan GQ 2024 setelah insulin yang disuntikkan tidak seimbang dengan asupan karbohidrat.
- Kepanikan terjadi di belakang panggung saat staf berusaha diam-diam mengantarkan sepiring kentang di tengah pidato Nicole Kidman.
- Insiden ini menyoroti tantangan hidup dengan diabetes tipe 1 di lingkungan sosial bertekanan tinggi, termasuk di industri hiburan.

James Norton, aktor yang dikenal lewat serial Happy Valley, nyaris pingsan di sebuah jamuan makan malam bergengsi GQ pada 2024 setelah salah perhitungan dosis insulin membuat gula darahnya anjlok drastis. Insiden itu memicu kekacauan di belakang panggung, hingga sepiring kentang panas harus diantarkan diam-diam tepat saat aktris Nicole Kidman tengah berpidato.
Dalam wawancaranya di podcast Table Manners bersama Jessie Ware dan Lennie Ware, Norton, 41 tahun, menceritakan bahwa ia menyuntikkan insulin sebelum hidangan pembuka tiba, dengan asumsi akan ada roti sebagai sumber karbohidrat. Namun, starter yang disajikan ternyata hanya sepotong kecil ikan trout asap tanpa karbohidrat sama sekali. “Saya duduk di meja utama, bersama Jude Law dan Nicole Kidman. Setelah makan trout, saya sadar hanya punya waktu sekitar sepuluh menit sebelum mulai pingsan,” ujarnya.
Norton yang duduk di meja utama tidak bisa begitu saja meninggalkan acara saat pidato penghormatan berlangsung. Ia mulai berkeringat dan gemetar—tanda klasik hipoglikemia. Diam-diam ia mendekati seorang staf wanita di belakang mejanya dan meminta makanan cepat. Staf itu memberinya cokelat batangan dan jus, yang sempat membuatnya merasa lebih baik. Namun, tanpa sepengetahuannya, kekacauan telah pecah di belakang panggung. “Mereka panik, ‘James Norton akan mengalami hipoglikemia!’ Jadi di tengah pidato Nicole Kidman, seseorang tiba-tiba membawakan saya sepiring kentang panas,” kenang Norton sambil tertawa. “Kelihatannya seperti ‘Ini omong kosong, James lapar. Beri dia kentang’.”
Kisah ini bukan yang pertama bagi Norton. Sejak didiagnosis pada 2003, ia kerap berbagi pengalaman mengelola diabetes di lingkungan yang tidak selalu ramah—terutama di atas panggung teater. Saat membintangi drama Perang Dunia I Journey’s End pada 2011, Norton mengalami episode serupa: adrenalin saat berakting membuatnya gemetar dan berkeringat, sehingga rekan pemainnya mengira ia mengalami syok diabetes. Mereka pun berimprovisasi dengan menawarkan Lucozade dalam cangkir teh dan meletakkan biskuit di atas panggung. “Ada kalanya diabetes dan teater bertabrakan,” katanya.
Bagi penderita diabetes tipe 1 di Indonesia, insiden Norton menjadi pengingat pentingnya perencanaan makan dan ketersediaan karbohidrat cepat serap, terutama di acara formal. Di Indonesia, jumlah penderita diabetes tipe 1 terus meningkat, namun kesadaran publik masih rendah. Banyak pasien muda menghadapi stigma dan keterbatasan akses terhadap makanan ramah diabetes di acara-acara sosial. Kisah Norton menunjukkan bahwa bahkan di lingkungan paling glamor sekalipun, kondisi ini bisa memicu situasi darurat yang membutuhkan respons cepat dan diskresi.
Norton sendiri telah lama menjadi advokat bagi kesadaran diabetes. Ia kerap berbicara tentang pentingnya monitoring gula darah dan persiapan sebelum acara. “Saat di panggung atau di lokasi syuting, tubuhmu penuh adrenalin dan itu mengacaukan gula darah. Saya harus mengantisipasi di awal pertunjukan dan memastikan kadar gula stabil atau naik,” jelasnya dalam wawancara 2017. Ke depannya, pengalaman ini bisa mendorong lebih banyak tempat acara—termasuk di Indonesia—untuk menyediakan opsi makanan rendah gula namun kaya karbohidrat kompleks bagi tamu dengan kebutuhan khusus.
Dengan popularitas Norton yang terus meningkat berkat serial Netflix The Housemaid, cerita ini tidak hanya menghibur tetapi juga mengedukasi. Pertanyaan yang mengemuka: seberapa siap industri hiburan dan penyelenggara acara di Indonesia untuk mengakomodasi kebutuhan penyandang diabetes tipe 1? Jawabannya mungkin akan menentukan apakah insiden serupa bisa dicegah—atau justru menjadi bahan anekdot berikutnya.


