FIGC Tak Gentar Mengejar Guardiola: Misi Besar di Balik Hambatan Besar
Baca dalam 60 detik
- La Gazzetta dello Sport mendesak FIGC untuk terus memburu Pep Guardiola sebagai pelatih timnas Italia, meski peluangnya dinilai semakin tipis.
- Kendala utama mencakup kontrak Guardiola di Manchester City yang masih panjang serta gengsi dan gaji yang harus disaingi.
- FIGC melihat Guardiola sebagai sosok ideal untuk merevolusi permainan Azzurri, namun realitas negosiasi menunjukkan jalan terjal.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) diminta untuk tidak menyerah dalam upaya mendatangkan Pep Guardiola sebagai pelatih kepala tim nasional, meskipun berbagai rintangan besar menghadang. Seruan itu muncul dari editorial La Gazzetta dello Sport, yang menilai pelatih asal Spanyol itu tetap menjadi figur paling ideal untuk membangun kembali kejayaan Azzurri.
Dalam tulisannya, harian olahraga Milan tersebut mengakui bahwa meyakinkan Guardiola untuk meninggalkan Manchester City bukanlah perkara mudah. Kontraknya di Etihad Stadium masih berlaku hingga 2025, dan proyek yang ia bangun di klub Premier League itu masih berjalan. Namun, FIGC dinilai tidak boleh gentar—justru harus terus melobi, karena opsi lain yang tersedia dianggap kurang memiliki kredibilitas dan pengalaman setara.
Guardiola, yang telah memenangi gelar liga di Spanyol, Jerman, dan Inggris, dianggap mampu membawa filosofi permainan menyerang yang selama ini dirindukan publik Italia. Sejak era Roberto Mancini yang berakhir setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022, timnas Italia memang tengah dalam masa transisi. Pelatih sementara Luciano Spalletti baru saja diangkat, tetapi namanya tidak setenar Guardiola di kancah global.
Kendala finansial juga menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Gaji Guardiola di Manchester City diperkirakan mencapai 20 juta euro per tahun—angka yang sulit disaingi FIGC yang mengandalkan anggaran terbatas. Selain itu, Guardiola dikenal sebagai pelatih yang sangat selektif dalam memilih proyek; ia pernah menolak tawaran tim nasional Brasil dan Belanda di masa lalu.
Meski demikian, La Gazzetta menekankan bahwa FIGC setidaknya harus menunjukkan ambisi. “Mengejar Guardiola adalah sinyal bahwa Italia serius ingin kembali ke papan atas sepak bola dunia,” tulis editorial tersebut. Jika gagal, setidaknya upaya itu akan memaksa federasi untuk mencari alternatif dengan standar tinggi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisruh perburuan pelatih ini mengingatkan pada situasi PSSI yang beberapa kali gagal mendatangkan pelatih asing top. Pelajaran dari Italia: kegigihan dalam negosiasi dan kesiapan finansial menjadi kunci. Jika FIGC saja kesulitan membujuk Guardiola, apalagi federasi dengan sumber daya lebih terbatas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Guardiola tergoda untuk menerima tantangan membangun tim nasional setelah bertahun-tahun berkutat di level klub? Ataukah FIGC harus segera mengalihkan fokus ke kandidat lain yang lebih realistis? Jawabannya mungkin baru akan terlihat setelah musim 2024/25 berakhir.



